KESATU.CO, PURWAKARTA – Langkah-langkah kecil itu menyusuri trotoar di tengah teriknya siang, membawa beban yang tak seimbang dengan usia mereka. Sepulang sekolah, ketika anak-anak sebayanya asyik bermain atau beristirahat di rumah, dua kakak beradik di Purwakarta ini harus berjuang menjajakan nampan berisi gorengan peyek.
Tanpa lelah, mereka mengetuk pintu demi pintu dan menghampiri setiap tempat keramaian demi mengumpulkan rupiah untuk membantu kelangsungan hidup keluarga.
Suasana haru dan penuh kehangatan tercipta saat sebuah pertemuan tak sengaja terjadi di sebuah warung makan sederhana. Kala itu, Bupati Purwakarta yang akrab disapa Om Zein tengah berada di warung tersebut.
Pandangannya tertuju pada dua sosok mungil yang memegang erat tempat dagangan mereka. Dengan ramah, Om Zein memanggil dan mengajak mereka berbincang hangat.
Di balik senyum lugu mereka, tersimpan cerita perjuangan hidup yang menyentuh hati. Sang kakak, seorang anak perempuan yang masih duduk di bangku sekolah, memberanikan diri bercerita kepada Om Zein.
Dengan suara perlahan dan mata yang berkaca-kaca, ia mengungkapkan bahwa mereka berdua telah lama menjadi anak yatim setelah ayahnya meninggal dunia.
“Kami jualan peyek buatan ibu, Pak. Sepulang sekolah baru keliling jualan,” tutur sang kakak polos. Setiap lembar peyek yang mereka jual merupakan hasil olahan tangan dingin sang ibu di rumah. Penghasilan dari berjualan inilah yang menjadi penopang utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan mereka.
Perbincangan mengalir makin mendalam ketika Om Zein menanyakan kondisi sekolah mereka. Sang kakak tersenyum malu-malu lalu mengaku bahwa mereka berdua sebenarnya belum memiliki seragam sekolah yang baru.
Baju seragam yang mereka kenakan sehari-hari sudah mulai lusuh dan mengecil, namun mereka tak ingin memberatkan sang ibu yang terus bekerja keras seorang diri.
Mendengar ketabahan dan kejujuran dua anak tersebut, mata Om Zein nampak berkaca-kaca. Tanpa berpikir panjang, momen spontan yang penuh empati pun terjadi.
Saat itu juga, Om Zein langsung memborong seluruh dagangan peyek yang tersisa di nampan mereka. Dagangan tersebut kemudian dibagikan secara gratis kepada orang-orang dan pengunjung yang ada di sekitar warung makan.
Tak berhenti di situ, rasa kepedulian sosok pemimpin daerah ini berlanjut. Om Zein merogoh kantongnya dan memberikan bantuan dana secara langsung kepada kedua anak tersebut.
Ia berpesan agar uang tersebut dipergunakan khusus untuk membeli baju dan perlengkapan sekolah baru yang selama ini mereka impikan.
“Belajar yang rajin ya, Nak. Ini untuk beli baju sekolah baru. Tetap semangat dan bantu ibunya,” ucap Om Zein sambil mengelus kepala sang adik dengan penuh kasih sayang.
Rasa kaget bercampur haru terpancar jelas dari wajah kedua kakak beradik tersebut. Menggenggam bantuan yang tak pernah mereka duga sebelumnya, air mata kebahagiaan tak mampu lagi mereka tahan.
Mereka berulang kali mengucapkan terima kasih atas kebaikan dan kepedulian pimpinan daerah yang mau mendengar serta meringankan beban hidup mereka.
Kisah perjuangan dua anak yatim penjual peyek di Purwakarta ini menjadi tamparan sekaligus inspirasi bagi banyak orang. Di tengah keterbatasan ekonomi dan ujian hidup sebagai anak yatim, semangat pantang menyerah mereka untuk membantu orang tua dan terus bersekolah sangat patut diacungi jempol.
Momen keteladanan yang ditunjukkan Om Zein juga mengingatkan kita semua akan pentingnya memiliki rasa empati, saling berbagi, dan mengulurkan tangan bagi sesama yang membutuhkan di sekitar kita.***
