KESATU.CO – Di berbagai kanal media sosial, tagar (#) KDM cukup ampuh sekedar untuk nebeng tenar dalam memancing viewers postingan kita.
Di Youtube sendiri, lebih dari 70 ribu pengguna rutin menggunakan tagar ini. Belum lagi di facebook, tiktok, instagram, atau berita online yang konsen meraup AdSense berkedok di balik jargon update informasi.
Akronim KDM, dari hari ke hari merajai sebutan dalam ragam percakapan maya. Kolom komentar berbagai postingan disesaki oleh sebutan KDM. KDM menjadi sentrum percakapan di lima tahun terakhir ini.
Baca Juga: BRI Salurkan KUR Rp42,23 Triliun, UMKM Jadi Prioritas 2025
Lalu apa itu KDM? Publik sudah tak asing lagi, tentu saja. KDM itu akronim dari Kang Dedi Mulyadi, tokoh Sunda yang kini dipercaya menjadi “raja” di Jawa Barat. Kita abaikan ledekan Ohang di panggung yang menyebut KDM sebagai Kang Duda Merana.
Ya, KDM adalah Gubernur terpilih dalam kontestasi 27 November 2024 lalu dengan perolehan suara fantastis: lebih dari 14 juta suara; perolehan yang hampir 2 kali lipat perolehan mantan seterunya di Pilkada 2018, Ridwan Kamil. Juga hampir 3 kali lipat perolehan Gubernur sebelum RK, Ahmad Heryawan.
Ketenaran KDM, memang berbanding lurus dengan elektabilitasnya di bilik suara. “Raja” baru tanah Pajajaran ini sukses menyisihkan lawan-lawan politiknya tanpa ampun: KDM hanya menyisakan 37 koma sekian persen untuk 3 pasang calon rivalnya.
Sejumlah pengamat mengatakan bahwa raihan KDM cukup fenomenal sepanjang sejarah Pilgub di Jabar. KDM menjadi pembicaraan berbagai platform media nasional, terlebih setelah ia dilantik dengan ragam gebrakan berani dan kontroversialnya.
Baca Juga: Rayakan Milangkala Desa Linggamukti, Bupati Purwakarta Om Zein Gelar Hajat Bumi
Awalnya mungkin orang mengira, bahwa ketenaran “raja” Sunda ini selesai sampai dilantik. Namun anggapan ini meleset jauh. Setelah resmi dilantik, nama KDM semakin “edan”. Begitu tulis pegiat desa di Wanayasa, Bang Haji Ihsan.
KDM, jika tak keliru, memulai debut program “edan”-nya dengan larangan study tour bagi siswa dan kewajiban sekolah untuk membagikan ijazah yang tertahan. Lalu ontrog tambang ilegal di Subang. Kemudian membedah APBD Jabar dalam konteks efisiensi, termasuk di dalamnya menyinggung anggaran Mesjid al-Jabar maha karya Ridwan Kamil.
Kemudian secara lateral, berbagai langkah dan gebrakan ia ambil. KDM bongkar wisata di puncak yang disinyalir menjadi sebab banjir di Bekasi. Lalu sejumlah wisata disegel bersama para menteri Kabinet Merah Putih. Ada juga pemutihan piutang pajak pemilik kendaraan bermotor bernilai puluhan triliun.
Baca Juga: Kedai Nasi Sinar Berkah: Pilihan Tepat untuk Makan Lezat dan Nongkrong Nyaman di Pusat Kota Bandung
Selain itu, KDM juga spiil soal pengunduran diri Direktur BJB yang kelak dalam beberapa minggu kemudian ditetapkan sebagai tersangka mark-up iklan senilai 220 milyar.
Tak sampai di situ, KDM bongkar bangunan liar di sepanjang kali Bekasi, sungai-singai dikeruk, sampah dibersihkan, sampai ia turun langsung dan tubuhnya berlumur lumpur.
Lalu sejumlah pejabat dirotasi dan dilantik di tempat terbuka, tak sebagaimana lazimnya seorang birokrat dilantik di gedung mewah.
Kemudian sejumlah sopir dilarang beroperasi di beberapa wilayah yang sekiranya mengganggu lalu lintas mudik lebaran. Lalu tradisi kirim parcel diubah menjadi pembagian semacam sembako untuk warga kurang mampu.
Dan, tentu saja masih banyak. Diantaranya melakukan evaluasi soal dana hibah yang jor-joran dan disinyalir syarat manipulasi untuk ponpes, madrasah, dan sejumlah sekolah lainnya. Juga memangkas alokasi kerja sama media dari 49 M menjadi 3 M saja. Hal lain, ia membuka rumah dinasnya untuk warga umum, diantaranya ia gelar pertunjukan wayang golek.
Dan sembari ngantor di lima wilayah semacam eks keresidenan, ia juga mulai ngaprak lagi dengan tajuk nganjang ka warga, suatu pertunjukan budaya yang sejak 2014 ia konsisten lakukan dengan nama berbeda-beda.
Tak lupa, sembari jalan ke berbagai wilayah, ia juga dengan insting tajamnya memotret ragam fenomena, seumpama aki-aki ahli sisindiran, remaja perempuan yang protes rumahnya digusur, dan sejumlah kisah tanpa settingan.
Seiring padatnya aksi, gebrakan, juga langkahnya yang berani, seiring itu pula perlahan berdatangan protes, nyinyiran, termasuk ancaman pembunuhan akhir-akhir ini.
Selain dipuja-puji oleh loyalisnya yang lintas provinsi dan negara, KDM juga perlahan mendapatkan stigma kurang menyedapkan, mulai soal tidak pro pariwisata, anti islam, abai terhadap pesantren, hatta cap sebagai sosok narsis dan suka pencitraan atau Gubernur rasa konten kreator.
Yang terakhir, muncul rumor soal anggaran 27 M yang diduga digunakan untuk membangun lembur Pakuan Subang. Padahal publik tahu, kediaman Lembur Pakuan Subang sudah dibangun jauh sebelum ia menjadi Gubernur Jabar.
Syahdan, dari semua sepak terjang yang berani, visioner, dan sedikit kontroversialnya, KDM tetaplah sosok yang kukuh pada pendirian. Sesekali ia menangis di atas panggung, sesekali ia garang untuk menunjukkan betapa seorang pemimpin harus tegas.
Baca Juga: Ayeo Zaki Unggullkan Program Wakat, Ketua DPRD Malah Berpesan Ini
Dalam kajian media, langkah kontroversialnya kadang tidak selalu buruk. Ia tetap bisa mendapatkan benefit elektoral. Dan KDM memang semakin populer, baik lantaran ia bekerja sungguh-sungguh, atau lantaran banyak hujatan dan cemoohan atas orang-orang yang tidak suka kepada dirinya.
Itulah KDM, Kang Dedi Mulyadi. Atau lantaran ia menjadi gubernur tanah Pasundan, samar-samar beberapa orang menyebutnya sebagai King Dedi Mulyadi (KDM).
Dan memang bukan rahasia lagi, sejak di Purwakarta menjadi Bupati, beberapa birokrat memanggil KDM dengan sebutan “Raja”.***
Penulis: Hasan Sidiq, Petani Kopi kiarapedes Purwakarta
