KESATU.CO – BANDUNG, Periode 2024 berakhir. Tentunya, beragam perkembangan ekonomi terjadi selama 12 bulan terakhir. Begitu pula dengan perkembangan industri jasa keuangan khususnya perbankan.
Lalu, bagaimana perkembangan perbankan di Jabar pada tahun lalu?
Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Regional Jabar, secara umum, hingga 31 Oktober 2024, kinerja sektor jasa keuangan di Tatar Pasundan sampai dengan 31 Oktober 2024 tetap stabil dan resilient.
Khusus perbankan, di bumi Parahyangan, hingga 31 Oktober 2024, sektor perbankan menunkukkan geliatnya yang positif. Ada beberapa indikator bergairahnya perbankan di Jabar.
Antara lain, perbankan Jabar memiliki kekayaan atau aset yang berlimpah. Secara tahunan, aset perbankan Jabar bertambah 9,07 persen. Total nilainya menjadi Rp230,43 triliun, melebihi realisasi hingga Oktober 2023, yakni Rp211,27 triliun.
Hingga akhir Oktober 2024 pun, nominal pengelolaan Dana Pihak Ketiga (DPK) oleh perbankan Jabar semakin banyak. Angkanya pada level Rp165,37 triliun atau bertambah 5,72 persen secara tahunan.
Begitu pula dalam hal penyaluran kredit atau pembiayaan. Hingga akhir bulan kesepuluh tahun lalu,, penyaluran kredit perbankan Jabar bernilai sangat mewah, yakni Rp153,68 triliun.
Angka itu lebih banyak 4,5 persen daripada pencapaian periode sama 2023, yang nominalnya Rp146,92 triliun.
Luar biasanya, perbankan di Jabar berhasil mencatat rasio Non-Performing Loan (NPL) Gross pada posisi yang positif, yakni 1,83 persen.
Tentang perbankan umum dan syariah yang berkantor pusat di Jabar, yakni PT Bank Pembangunan Daerah Jabar-Banten Tbk (Perseroda) alias bank bjb dan T Bank Pembangunan Daerah Jabar-Banten Syariah atau bank bjbs, OJK menyatakan,, perbankan-perbanksn itu pun bergeliat.
Baca Juga: KAI Beberkan Sistem Pembelian Tiket Kereta Terbaru, dan Destinasi Terfavorit Selama Nataru 2024-2025
Secara total, hingga 31 Oktober 2024, bank bjb dan bank bjbs memiliki aset yang bernilai Sultan, yaitu Rp198 triliun. Nominal itu bertambah Rp17,52 triliun atau 9,71 persen secara tahunan.
Kedua perbankan itu pun mengelola DPK bernilai akbar. Angkanya Rp143 triliun atau bertambah banyak 5,63 persen secara tahunan.
Selain itu, penyaluran kredit keduanya pun masif. Total kredit yang digelontorkan bank bjb dan bank bjbs hingga akhir Oktober 2024, berada pada posisi Rp130 triliun, lebih banyak Rp6,92 triliun atau 5,62 persen daripada realisasi hingga 31 Oktober 2023.
Sama halnya dengan segmen Bank Perekonomian Rakyat (BPR) -Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS).
OJK mengumumkan bahwa meski dibayangi adanya pembekuan 20 perbankan di Indonesia selama 2024, kinerja BPR-BPRS di Jabar menunjukkan tren positif.
Hingga sepuluh bulan pertama 2024, di Jabar, BPR-BPRS punya kekayaan berupa aset bernilai lebih banyak 5,33 persen daripada akhir Oktober 2023 atau pada posisi Rp32,43 triliun.
Perolehan aset itu berkat masifnya penyaluran kredit atau pembiayaan BPR-BPRS hingga 31 Oktober 2024, yakni Rp23,68 triliun atau menggeliat 8,28 persen secara tahunan.
Penyaluran kredit atau pembiayaan itu mayoritas oleh BPR, yakni Rp17,70 triliun. Sisanya, bernominal Rp5,98 triliun, digelontorkan BPRS.
Sama halnya dengan pengelolaan DPK. Posisi DPK yang dikelola BPR-BPRS di Jabar hingga akhir Oktober 2024 bernilai Rp22,37 triliun atau bertambah 6,27 persen secara tahunan. (win/*)
