KESATU.CO – BANDUNG, Pergerakan berbagai sektor ekonomi selama 2024 memang masih fluktuatif. Tentunya, kondisi itu menimbulkan beragam efek, termasuk bagi industri perbankan.
Satu contohnya, selama 2024, ada 20 korporasi perbankan yang riwayatnya berakhir. Mayoritas perbankan yang gulung tikar karena izin operasionalnya dibekukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) itu adalah segmen Bank Perekonomian Rakyat (BPR) -Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS).
Tamatnya riwayat ke-20 perbankan itu akibat fraud alias kesalahan manajemen. Misalnya, tidak memenuhi syarat kecukupan modal minimum.
Meski demikian, OJK mengklaim, secara umum, perbankan nasional tetap perkasa. Hal itu tercermin pada performa dan kinerja beberapa lini bisnisnya.
Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, mengungkapkan, lini bisnis perbankan yang menunjukkan kinerja gemilang yakni penyaluran kredit atau pembiayaan.
Mantan Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan (KPw) Jabar ini mengatakan, hingga Oktober 2024, penyaluran pembiayaan oleh industri perbankan menggeliat dua digit secara tahunan, tepatnya 10,92 persen.
“Nominalnya menjadi Rp7.657 triliun,” tandas Dian Ediana Rae dalam keterangan resminya.
Pria berkaca mata ini meneruskan, selain super jumbonya nilai penyaluran pembiayaan, industri perbankan pun mencatat posisi rasio Non-Performing Loan (NPL) atau kredit bermasalah pada level 2,20 persen.
Indikator berikutnya yang membuktikan menterengnya performa dan kinerja perbankan yakni pengelolaan Dana Pihak Ketiga (DPK).
Baca Juga: Waspadai Macet dan Hujan Petir Saat Malam Tahun Baru 2025
Dian Ediana Rae menyatakan, hingga Oktober 2024, bergeliat 6,74 persen secara tahunan. Pergerakan positif itu menempatkan posisi DPK hingga Oktober 2024 pada level Rp8.751 triliun.
Bagaimana dengan perbankan di Jabar?
Imansyah, Kepala OJK Jabar, menambahkan, industri perbankan di Tatar Pasundan pun membukukan performa dan kinerja cemerlang.
“Nilai penyaluran kredit perbankan di Jabar hingga Oktober 2024 yakni Rp646 triliun. Angka itu lebih besar 8,15 persen daripada realisasi kredit periode Oktober 2023,” papar Imansyah.
Imansyah menyatakan, masifnya penyaluran kredit perbankan hingga Oktober 2024, itu diimbangi perkembangan positif rasio NPL.
“Posisi NPL perbankan pada Oktober 2024 yakni 3,62 persen. Posisi itu lebih baik daripada periode sama 2023, yaitu 3,39 persen,” paparnya.
Pergerakan positif juga, tambah Imansyah, terjadi pada pengelolaan DPK. Hingga Oktober tahun ini, perbankan Jabar mengelola DPK yang secara tahunan, nominalnya 6,15 persen lebih banyak daripada periode sama 2023, yakni pada posisi Rp699 triliun.
Melihat perkembangan positif tersebut, Imansyah menegaskan, pihaknya tetap serius dan berkomitmen kuat untuk terus menggeliatkan industri jasa keuangan, khususnya perbankan, agar lebih berdaya saing. (win/*)
