KESATU.CO, SUKABUMI – Tidak hanya dikenal dengan aktivitas masyarakatnya yang banyak bekerja di sektor industri, Desa Parungkuda, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, ternyata memiliki potensi ekonomi kerakyatan dan kekayaan budaya yang cukup beragam.
Mulai dari produksi tahu, tahu walik, keripik, dodol, usaha konveksi rumahan, hingga kesenian karinding Sunda, berbagai potensi tersebut menjadi gambaran kreativitas dan kemampuan masyarakat dalam mengembangkan kegiatan produktif di lingkungan desa.
Kepala Desa Parungkuda, Didih Jaenudin, mengatakan bahwa potensi yang dimiliki desanya tidak hanya terbatas pada satu sektor. Ada berbagai bidang yang dapat dikembangkan untuk mendorong perekonomian sekaligus memperkuat identitas masyarakat.
“Desa Parungkuda memiliki beragam potensi ekonomi masyarakat yang dapat terus dikembangkan, mulai dari sektor UMKM, industri rumahan, hingga kesenian tradisional,” kata Didih Jaenudin.
Menurutnya, Desa Parungkuda memiliki wilayah administratif yang terdiri dari 8 Rukun Warga (RW) dan 30 Rukun Tetangga (RT). Sebagian besar masyarakat bekerja sebagai buruh pabrik dan tenaga kerja di berbagai sektor industri.
“Sebagian besar masyarakat di sini memang bekerja sebagai buruh pabrik dan pekerja di berbagai sektor industri. Namun, selain pekerjaan tersebut, masyarakat juga memiliki potensi usaha yang berkembang di lingkungan masing-masing,” jelasnya.
Kondisi tersebut memperlihatkan adanya peluang ekonomi lain yang tumbuh di tengah masyarakat. Usaha rumahan menjadi salah satu aktivitas yang dapat mendukung pendapatan keluarga sekaligus membuka kesempatan usaha bagi warga.
Salah satu potensi yang menjadi perhatian adalah keberadaan berbagai produk UMKM. Produk seperti tahu walik, keripik, dodol, serta produksi tahu menjadi bagian dari usaha masyarakat yang memiliki peluang untuk dikembangkan.
“Untuk UMKM, ada beberapa produk yang dihasilkan masyarakat, di antaranya tahu walik, keripik, dodol, dan juga usaha produksi tahu,” ungkap Didih.
Menurutnya, keberadaan usaha tersebut merupakan potensi lokal yang perlu terus mendapat perhatian. Apalagi, produk makanan rumahan memiliki peluang untuk dikembangkan apabila didukung peningkatan kualitas dan pemasaran.
Selain produk kuliner, masyarakat juga mengembangkan usaha konveksi rumahan yang memproduksi pakaian.
“Ada juga usaha konveksi rumahan yang memproduksi pakaian. Ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki keterampilan dan kemampuan untuk mengembangkan usaha sendiri,” tuturnya.
Keberadaan berbagai usaha tersebut menjadi modal bagi pengembangan ekonomi desa. Tantangannya adalah bagaimana usaha yang telah berjalan dapat tumbuh lebih besar, memiliki jaringan pemasaran, dan mampu bertahan dalam persaingan.
Dalam pengembangan ekonomi masyarakat, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) memiliki peluang untuk menjadi salah satu instrumen penguatan usaha lokal.
Pengelolaan BUMDes dapat diarahkan untuk mendukung potensi yang telah berkembang di masyarakat, termasuk produk kuliner dan industri rumahan.
“BUMDes menjadi salah satu program yang dapat didorong untuk memperkuat pengelolaan potensi lokal,” ujar Didih.
Ia menilai pengembangan usaha desa perlu memperhatikan kebutuhan masyarakat dan potensi unggulan yang sudah tersedia.
“Pengembangan usaha berbasis kebutuhan masyarakat dan produk unggulan desa diharapkan dapat membuka peluang pemasaran yang lebih luas bagi pelaku UMKM,” jelasnya.
Dengan pengelolaan yang terarah, BUMDes berpeluang menjadi penghubung antara pelaku usaha, pemerintah desa, dan pasar yang lebih luas.
Di luar sektor ekonomi, Desa Parungkuda juga memiliki potensi dalam bidang kesenian dan olahraga. Sejumlah kegiatan yang berkembang di antaranya seni tari tradisional, karinding Sunda, karate, serta pencak silat.
Bagi Didih, potensi tersebut menjadi bagian dari kekayaan masyarakat yang perlu terus diperhatikan.
“Selain potensi ekonomi, di Desa Parungkuda juga ada kegiatan kesenian dan olahraga, seperti seni tari tradisional, karinding Sunda, karate, serta pencak silat,” paparnya.
Kesenian tari tradisional dan karinding Sunda memiliki nilai budaya yang penting untuk dipertahankan. Keberadaannya bukan sekadar kegiatan hiburan, melainkan juga bagian dari upaya menjaga warisan budaya agar tetap dikenal generasi muda.
Sementara itu, karate dan pencak silat menjadi wadah pembinaan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengembangkan kemampuan, kedisiplinan, dan prestasi.
“Potensi kesenian dan olahraga ini juga perlu mendapat perhatian. Harapannya, kegiatan-kegiatan positif seperti ini dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,” ungkapnya.
Berbagai potensi yang dimiliki Desa Parungkuda memperlihatkan bahwa pembangunan desa dapat dilakukan melalui banyak sektor. Tidak hanya mengandalkan aktivitas industri, tetapi juga dengan memperkuat usaha masyarakat, mengembangkan kreativitas lokal, serta menjaga kebudayaan.
Didih berharap penggalian potensi desa dapat menjadi langkah untuk memperkenalkan berbagai keunggulan masyarakat kepada publik yang lebih luas.
“Melalui penggalian potensi ini, berbagai potensi Desa Parungkuda diharapkan dapat semakin dikenal masyarakat luas,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya kerja sama seluruh unsur masyarakat dalam mendorong pengembangan potensi tersebut.
“Sinergi antara pemerintah desa, pelaku UMKM, kelompok kesenian, dan masyarakat menjadi salah satu langkah penting dalam mendorong pengembangan potensi lokal,” tambahnya.
