KESATU.CO – BANDUNG, Sebagai negara yang berbasis agraris, pemerintah era Presiden Republik Indonesia 2024–2029, Prabowo Subianto, mencanangkan program berkenaan dengan pangan, yaitu swasembada.
Karenanya, ketersediaan pasokan komoditas pangan, terutama beras, merupakan hal yang sangat krusial untuk merealisasikan target swasembada pangan.
Lalu, berapa banyak ketersediaan beras saat ini?
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI), Wahyu Suparyono, Direktur Utama Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog), mengklaim bahwa saat ini, ketersediaan beras nasional yang pihaknya kelola hampir sebanyak 2 juta ton.
“Ketersediaan CBP (Cadangan Beras Pemerintah) yakni sebanyak 1.947.778 ton beras,” tandas Wahyu Suparyono.
Selain beras, lanjut Wahyu Suparyono, komoditas lainnya yang pihaknya kelola dan bervolume masif yaitu minyak goreng (migor). Volume stok migor saat ini, ujar Wahyu Suparyono, sebanyak 5,1 juta liter atau 5.199 kilo liter.
Tidak hanya beras dan migor, lanjut dia, pihaknya pun mengelola beberapa komoditas lainnya. Yaitu, sebut dia, terigu, yang saat ini, ketersediaannnya pada level 117 ton.
Kemudian, tuturnya, gula pasir, yang posisi stoknya bervolume 13.612 ton. “Selanjutnya telur sebanyak 5 ton. Berikutnya adalah jagung PSO (Public Service Obligation) atau subsidi sebanyak 54.995 ton, plus jagung komersial berjumlah 18,2; ribu ton,” ungkap Wahyu Suparyono.
Soal target swasembada, Wahyu Suparyono menyatakan, pihaknya siap menunaikan tugas yang diamanatkan pemerintah. Kesiapan itu, tegasnya, agar tercapainya misi utama pemerintah yaitu stabilitas dan ketahanan pangan, secara lebih terakselerasi.
Bentuk penugasan tersebut, beberapa Wahyu Suparyono, penyerapan dan pengadaan gabah serta beras domestik sebanyak. 3 juta ton pada tahun ini, seiring dengan tidak berlanjutnya program importasi beras.
Hingga 3 Februari 2025, sebut Wahyu Suparyono, realisasi pengadaan dan penyerapan beras petani dalam negeri untuk memperkokoh Cadangan Pangan Pemerintah (CPP), pada posisi 18,3 ribu ton.
Wahyu Suparyono menyatakan, meski baru belasan ribu ton, volume penyerapan dan pengadaan beras hingga 3 Februari 2025 itu lebih banyak daripada pencapaian awal 2024.
Sayangnya, Wahyu Suparyono tidak menyebut volume penyerapan dan pengadaan beras pada awal 2024. Walau demikian, informasinya, realisasi penyerapan dan pengadaan beras pada awal 2024 sekitar 5-6 ribu ton.
Pihaknya, cetus dia, optimistis bahwa target pengadaan dan penyerapan beras petani dalam negeri sebanyak 3 juta ton bisa tercapai.
Satu faktor keyakinan itu, tukasnya, yakni nominal Harga Pembelian Pemerintah (HPP) beras atau gabah setara beras, yakni Rp6.500 per kilo gram. (win/*)
