KESATU.CO – BANDUNG, Rusaknya alam akibat ulah dan tangan-tangal jahil manusia berdampak yang luar biasa. Selain perubahan iklim, juga menyebabkan terjadinya berbagai bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, pergerakan tanah atau amblas, pohon tumbang, dan lainnya.
Tentu saja, bagi industri transportasi, bencana hidrometeorologi adalah hal yang paling membuat mereka khawatir.
Karenanya, sebagai korporasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor transportasi publik, PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero) memiliki berbagai strategi untuk mengantisipasi sekaligus meminimalisir dampak bencana hidrometeorologi.
“Kami menyiapkan upaya-upaya antisipasi dan meminimalisir dampak bencana hidrometeorologi sehingga seluruh perjalanan kereta tetap lancar, aman, nyaman, dan kondusif,” tandas Ramgga Putra Maulana, Deputy PT KAI (Persero) Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung.
Dia menegaskan, dalam sektor transportasi, keselamatan dan kenyamanan sebuah perjalanan merupakan elemen penting dan prioritas utama. Terlebih, tuturnya, pada periode Februari 2025, tidak tertutup kemungkinan terjadi cuaca ekstrem.
Lalu, upaya apa saja yang disiapkan dan dilakukan PT KAI (Persero) Daop 2 Bandung menyikapi kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem?
Rangga Putra Maulana mengungkapkan, agar seluruh perjalanan kereta tetap aman, lancar, nyaman, dan kondusif, secara rutin, pihaknya mengaktifkan perawatan geometri pada jalur rel
“Pemeriksaan dan perawatan geometri kami lakukan untuk memastikan struktur jalur rel tetap aman, tidak mengalami pergeseran atau perubahan,” jelasnya.
Upaya lainnya, lanjut Rangga Putra Maulana, pihaknya membersihan dan menormalisasi saluran air di sepanjang jalur rel. Tujuannya, kata dia, mengantisipasi terjadinya genangan atau banjir yang berpotensi mengganggu operasional perkeretaan.
Baca Juga: Mau Mudik Idul Fitri Pakai Kereta? Pemesanan Tiketnya Sudah Bisa Lho
Yang tidak kalah krusialnya, ungkap Rangga Putra Maulana, pihaknya senantiasa bersiaga 100 persen dan secara nonstop, memantau titik-titik rawan alias Daerah Pantau Khusus selama 24 jam setiap harinya.
Di wilayahnya, tutur Rangga Putra Maulana, terdapat 87 titik rawan bencana, baik jalur yang menuju barat maupun timur. Seluruh Daerah Pemantauan Khusus itu berkatagori rawan longsor, banjir, dan gogosan (amblas).
“Jadi kami menyiagakan tim dan petugas khusus pada titik-titik rawan tersebut,” sahutnya.
Selain itu, tambahnya, pihaknya juga menambah frekuensi pengecekan kondisi rel dan lingkungan sekitarnya melalui pengaktifan dan penyiagaan petugas pemeriksa jalur ekstra. (win)
