KESATU.CO – BANDUNG, Ketersediaan komoditas merupakan ellemen krusial demi terciptanya stabilitas pangan. Karena itu, sebagai korporasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) terus melakukan berbagai cara agar stabilitas dan ketahanan pangan nasional tetap terwujud.
Di antaranya, secara gencar, terus menyerap hasil pertanian di berbagai wilayah, termasuk Jabar.
Bagaimana perkembangan terkini tentang stok pangan, khususnya beras, di Jabar?
“Kami tetap konsisten menyerap beras petani demi terpenuhinya stok CPP (Cadangan Pangan Pemerintah),” tandas Pemimpin Wilayah Perum Bulog Jabar, M Attar Rizal.
Pria yang berpenampilan mirip Andi Malarangeng ini menegaskan, melalui penyerapan beras petani secara intensif, kini, Jabar memiliki stok beras yang aman.
M Attar Rizal menyatakan, selama tahun ini, pihaknya menyerap, beras petani sebanyak 185.000 ribu ton, lebih banyak 12 persen daripada target pemerintah, yakni 164.000 ton.
M Attar Rizal menjelaskan, volume penyerapan 185.000 ton beras petani itu, sebanyak 177.000 ton di antaranya merupakan beras medium. Sisanya, kata M Attar Rizal, yaitu sekitar 8.000 ton, adalah beras premium.
Memang, tuturnya, penyerapan neras petani melampaui target 2024. Meski demikian, cetus M Attar Rizal, , pihaknya terus melakukan penyerapan gabah dan beras petani.
Baca Juga: Duh, Banyak TKI Terjerat Pinjol Ilegal, OJK-Kemenlu Bergerak Cepat, Lakukan Hal IniTujuannya, terang M Attar Rizal, agar stok beras jabar tetap aman dan stabil.
Mengenai harga gabah dan beras pada level petani, M Attar Rizal menyatakan, berdasarkan Surat Keputusan Badan Pangan Nasional (Bapanas) 167/2024, harga pengadaan fleksibilitas Gabah Kering Panen (GKP) pada level petani yaitu Rp6.000 per kilogram.
Masih mengacu pada SK Bapanas 167/2024, tambah M Attar Rizal, harga Gabah Kering Giling (GKG) dan beras pada gudang Perum Bulog masing-masing bernominal Rp7.400 per kilogram serta Rp 11.000 per kilogram.
Bicara soal stok beras di Tatar Pasundan, M Attar Rizal mengungkapkan, publik Jabar tidak perlu mengkhawatirkannya. Pasalnya, kata M Attar Rizal, saat ini, pihaknya mengelola 183.700 ton.
“Volume stok beras itu mencakup 159.000 ton stok operasional. Beras- beras itu tersimpan pada gudang-gudang (Perum Bulog). Lalu, sekitar 24.700 ton beras, masih dalam perjalanan,” papar M Attar Rizal.
Pria berkumis ini menyatakan, berlimpah ruahnya stok beras Jabar itu bisa memenuhi kebutuhan selama beberapa bulan mendatang.
Pemanfaatan stik beras yang berlimpah ruah itu, ujarnya, beragam. Misalnya, sahut M Attar Rizal, pada program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), yang pelaksanaannya pada berbagaintitik, baik pasar tradisional maupun ritel moderen.
Pemanfaatan lainnya, imbuh M Attar Rizal, yaitu apda agenda Gerakan Pangan Murah (GPM). Termasuk, ucap dia, program Bantuan Pangan. (*)
