KESATU.CO, PURWAKARTA – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, mengaktifkan kembali Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) yang selama ini tidak beroperasi.
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kosasih mengungkapkan, diaktifkannya TPS3R di Purwakarta menindaklanjuti arahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
“Arahan dari Pak Menteri Lingkungan Hidup sangat jelas, TPS3R harus difungsikan kembali. Kami sudah mulai proses reaktivasi,” kata Kosasih.
Baca Juga: Stadion GBLA Disiapkan Jadi Venue Piala Presiden, Farhan: Semua Daya Kita Kerahkan
Revitalisasi TPS3R tersebut akan didukung dengan peningkatan kapasitas pengolahan sampah harian.
Dia menyebut kapasitas awal yang hanya 20 ton per hari akan dinaikkan menjadi 50 ton per hari dalam waktu dekat.
“Ini langkah antisipatif untuk mengurangi tekanan terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cikolotok,” katanya.
Menurutnya, kondisi kapasitas TPA Cikolotok saat ini sudah mulai kritis. Dari total daya tampung yang tersedia, hanya tersisa sekitar 40 persen.
Baca Juga: Wakil Ketua DPRD Soroti 100 Hari Kerja Wali Kota Sukabumi, Begini Katanya
“Kalau tidak diantisipasi sejak dini, kita bisa menghadapi krisis lingkungan karena overload TPA,” tambahnya.
DLH Purwakarta juga akan menerapkan sistem sanitary landfill untuk pengelolaan sampah di TPA. Sistem ini dikenal lebih ramah lingkungan karena sampah ditimbun secara sistematis, dipadatkan, dan dilapisi tanah untuk menghindari pencemaran.
“Dengan sistem sanitary landfill, kita bisa meminimalisasi bau, limbah lindi, dan dampak negatif lainnya terhadap masyarakat sekitar,” ujar.
Ia juga menambahkan bahwa sistem ini sudah menjadi standar nasional dan akan diimplementasikan di Purwakarta.
Baca Juga: Sistem Pengelolaan Keuangan Desa di Jabar Sudah Nontunai
Seluruh program yang diluncurkan tahun ini, menurutnya, sejalan dengan tema global HLH Sedunia 2025, yaitu “Land Restoration, Desertification and Drought Resilience”.
Meskipun tema tersebut bersifat global, Kosasih menyebut bahwa upaya lokal tetap menjadi kunci dalam menjawab tantangan lingkungan masa kini.
“Semua pihak harus terlibat, mulai dari pemerintah, pelajar, hingga masyarakat umum. Menjaga lingkungan bukan hanya tugas satu instansi, tapi tanggung jawab bersama,” pungkasnya. ***
