KESATU.CO, PURWAKARTA – Jagat media sosial tengah dihebohkan oleh polemik lirik lagu “Lalaki Langit, Lalanang Bejad” yang menyeret nama Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein.
Menanggapi riuh kritikan netizen, Iman Ulle, seorang pegiat sastra, musisi, sekaligus ‘songwriter’ yang terlibat dalam proyek tersebut, akhirnya buka suara.
Secara mengejutkan, Iman Ulle menyatakan siap bertanggung jawab penuh atas lahirnya karya yang kini menuai pro-kontra di masyarakat tersebut. Melalui akun Facebook pribadinya, Iman Persilahkan netizen untuk berdiskusi secara terbuka.
“Siapkan pertanyaan bagus!” tulis Iman Ulle dalam unggahannya, Persilahkan nalar kritis para peselancar dunia maya.
Kritik Pedas Netizen: Singgung Isu Kekerasan S*ksual daerah
Unggahan tersebut langsung diserbu ratusan komentar. Salah satu kritik paling tajam datang dari akun bernama ‘Anita Rohani’, Ia mempertanyakan sensitivitas gender dalam lirik lagu tersebut, terutama kaitannya dengan posisi Om Zein sebagai seorang pemimpin daerah.
“Kalau Kang Bupati merasa beruntung terlahir laki-laki, apakah artinya kami kaum perempuan dianggap tidak beruntung? Yang dianggap ketidakberuntungan oleh Pak Bupati dan juga Kang Iman yang sudah mengakui bertanggung jawab pada lagu ini, bagi kami adalah anugerah,” tulis Anita.
Anita juga mengaitkan lirik lagu tersebut dengan realita sosial dan kasus kekerasan seksual yang masih marak terjadi di daerah.
“Kami berhak kecewa ketika seorang pemimpin di mana kasus kekerasan seksual di daerah yang dipimpin cukup tinggi termasuk pemerkosaan dan pembunuhan siswi SMP di Plered, dan pemerkosaan 15 santriwati di Pondoksalem malah membuat lagu yang merendahkan perempuan,” tegasnya.
Jawaban Iman Ulle: Bedah Hermeneutika dan Katarsis ‘Mantan Lelaki Bejad’
Mendapat argumen telak tersebut, Iman Ulle tidak tinggal diam. Ia membalas komentar Anita Rohani dengan pendekatan teori sastra dan hermeneutika (metode interpretasi makna).
Menurut Iman, masyarakat harus melihat jalinan lirik tersebut secara utuh, bukan sepotong-sepotong atau sekadar makna kata per kata.
Iman menjelaskan bahwa dalam lirik lagu “Lalaki Langit Lalanang Bejad”, hanya ada dua variabel subjek yang sedang diperbandingkan: ‘Om Zein di masa lalu’ dan “Om Zein jika di masa lalu terlahir sebagai seorang perempuan.”
“Lirik lagu itu terkena hukum *setting* waktu, di mana ia menjadi momentum katarsis tentang kelakuan ‘bejat’ yang dikerjakan oleh penulis lirik,” ujar Iman Ulle.
Lebih lanjut, Iman menjelaskan konsep “mem-perempuan-kan diri” yang ada di dalam lagu tersebut. Menurutnya, frasa “beruntung” dalam lagu bukan untuk mendiskreditkan gender perempuan secara umum, melainkan sebuah pengakuan dosa atau refleksi diri.
“Dia mem-perempuan-kan dirinya justru dalam perbandingan ketidakmampuannya menjadi perempuan. Itulah konteks beruntung di situ. Bukan dalam komparasi gender secara umum,” tambah Iman.
Penjelasan di Balik Idiom Sensitif ‘Kutang dan Susu’
Menjawab keresahan publik mengenai adanya diksi atau kosa kata yang dianggap vulgar dan merendahkan perempuan, Iman Ulle memberikan pembelaan dari sudut pandang estetika sastra realisme. Menurutnya, kosa kata dalam lagu tersebut merupakan cerminan dari pengalaman otentik masa lalu yang kelam.
“Kosa kata dalam lirik itu hanya bisa diisi oleh perbandingan ekuivalen dengan perilakunya sebagai mantan ‘lelaki bejat’. Misal ketika bicara ‘kutang dan susu’, ya si perempuan itu adalah sosok yang ingin dia hadirkan ketika dia berada di fase ‘nakal’,” terang Iman.
Ia menilai penggunaan idiom tersebut sifatnya kontekstual dan tidak bisa diganti dengan representasi sosok perempuan baik-baik demi menjaga keaslian cerita masa lalu sang tokoh.
“Kan gak mungkin memasang idiom perempuan baik-baik untuk menyambungkan pengalaman otentiknya. Saya dengan penuh kesadaran membela pikiran itu, dan tidak ada konteks merendahkan,” pungkas Iman Ulle mengakhiri penjelasannya.
Menakar Batasan Sastra dan Sensitivitas Publik
Polemik lagu *”Lalaki Langit Lalanang Bejad”* ini membuka ruang debat baru mengenai batasan kebebasan berekspresi dalam karya sastra dan musik, khususnya ketika karya tersebut lahir dari tangan seorang figur publik atau pemimpin daerah.
Di satu sisi, pegiat sastra seperti Iman Ulle melihatnya sebagai sebuah karya seni jujur yang menggunakan metode katarsis (pemberihan jiwa lewat seni).
Hingga saat ini, diskusi di lapak digital Iman Ulle masih terus bergulir dan memicu perdebatan hangat netizen.***
