KESATU.CO – Di tengah geliat industri kuliner yang semakin kreatif dan kompetitif, satu hal kerap terlupakan oleh pelaku usaha: keamanan pangan. Padahal, bagi konsumen modern, makanan lezat saja tidak lagi cukup. Mereka juga menuntut jaminan bahwa setiap hidangan aman untuk dikonsumsi.
Isu ini menjadi sorotan dalam pelatihan keamanan pangan yang akan digelar oleh LPT Panghegar di Bandung pada April 2026.
Dalam program pelatihan bersertifikasi BNSP tersebut, praktisi kuliner sekaligus trainer HACCP, Chef Lucky Permana, dijadwalkan berbagi pengetahuan mengenai pentingnya penerapan standar keamanan pangan di dapur profesional maupun usaha kuliner skala kecil.
Menurut Chef Lucky, sistem Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) merupakan metode yang dirancang untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengendalikan potensi bahaya dalam proses produksi makanan.
“Dalam konteks meningkatnya kasus foodborne disease, penerapan HACCP menjadi sangat penting. Dapur profesional harus memprioritaskan ini untuk menjaga kepercayaan konsumen,” ujar Chef Lucky, Kamis (05/03/2026)
Ia menjelaskan, masih banyak pelaku usaha kuliner yang belum memahami secara utuh penerapan HACCP. Kesalahan sering terjadi sejak tahap awal, seperti kurang tepat dalam mengidentifikasi potensi bahaya atau tidak menetapkan batas kritis yang sesuai dalam proses produksi makanan.
Di lapangan, pelaku usaha juga kerap lalai melakukan pemantauan titik kritis atau critical control point (CCP), tidak menyiapkan langkah korektif saat terjadi penyimpangan, hingga mengabaikan proses dokumentasi.
Padahal, menurut Chef Lucky, kesalahan yang terlihat sederhana tersebut bisa berdampak besar terhadap keamanan pangan dan berpotensi meningkatkan risiko kontaminasi makanan.
“Sistem keamanan pangan tidak hanya soal prosedur. Yang lebih penting adalah bagaimana tim di dapur memahami dan menjalankannya secara konsisten,” katanya.
Lebih jauh, ia menilai bahwa budaya kerja di dapur memiliki peran yang bahkan lebih penting dibandingkan dokumen standar operasional prosedur (SOP).
“SOP itu hanya dokumen. Yang membuatnya hidup adalah budaya kerja tim di dapur,” ujarnya.
Dalam praktiknya, konsep HACCP sebenarnya dapat diterapkan secara sederhana bahkan oleh pelaku usaha kuliner skala kecil. Chef Lucky mencontohkan proses memasak nasi sebagai ilustrasi penerapan titik kritis dalam keamanan pangan.
Mulai dari tahap pencucian beras hingga proses pemasakan harus diperhatikan dengan baik. Nasi idealnya dimasak pada suhu minimal sekitar 90 derajat Celsius selama kurang lebih 20 menit untuk memastikan keamanan produk.
Jika ditemukan indikasi kontaminasi atau proses memasak yang tidak sempurna, tindakan korektif harus segera dilakukan, seperti memasak ulang atau membuang produk yang tidak layak.
Pendekatan sederhana ini dinilai efektif untuk membantu pelaku UMKM kuliner memahami bahwa keamanan pangan tidak selalu membutuhkan sistem yang rumit.
Selain melindungi konsumen, penerapan HACCP juga memberikan manfaat besar bagi bisnis. Reputasi usaha menjadi lebih kuat, risiko hukum dapat ditekan, dan efisiensi operasional dapur meningkat.
Dalam industri kuliner yang persaingannya semakin ketat, standar keamanan pangan bahkan dapat menjadi keunggulan kompetitif.
Baca Juga: TEMUI RATUSAN TPK, MENTERI WIHAJI PASTIKAN DISTRIBUSI MBG 3B DI CIANJUR BERJALAN
Chef Lucky juga menekankan pentingnya pelatihan praktis agar pelaku usaha tidak hanya memahami konsep HACCP secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya secara nyata di dapur.
“Pelatihan harus aplikatif. Tidak cukup hanya teori, tetapi harus ada praktik langsung agar pelaku usaha benar-benar memahami penerapan HACCP,” jelasnya.
Di akhir pesannya, Chef Lucky mengingatkan para chef muda dan pelaku usaha kuliner bahwa kesuksesan bisnis tidak hanya ditentukan oleh kreativitas rasa.
“Rasa yang lezat tidak lengkap tanpa keamanan pangan yang terjamin. Jangan hanya fokus pada rasa, tapi prioritaskan keamanan pangan untuk melindungi konsumen dan reputasi,” pungkasnya.
Dengan meningkatnya kesadaran terhadap keamanan pangan, penerapan HACCP oleh lpt Panghegar, https://www.lptpanghegar.com diharapkan tidak lagi hanya menjadi standar industri besar, tetapi juga menjadi budaya di seluruh lini usaha kuliner, termasuk UMKM.
