KESATU.CO, PURWAKARTA – Menikah merupakan momen sakral yang diimpikan setiap pasangan. Namun, tak jarang impian menyelenggarakan pesta pernikahan yang megah justru menjadi beban finansial yang berat di kemudian hari.
Menjawab permasalahan tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purwakarta bersama Kementerian Agama (Kemenag) Purwakarta menghadirkan solusi konkret melalui Program Nikah Hemat.
Inisiatif ini digagas langsung oleh Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein yang akrab disapa Om Zein. Program ini dirancang khusus untuk mempermudah masyarakat yang ingin melangsungkan pernikahan tanpa harus terbeban dengan biaya yang membengkak.
Fasilitas Lengkap Program Nikah Hemat Purwakarta
Program Nikah Hemat tidak hanya sekadar membebaskan biaya akad nikah di Kantor Urusan Agama (KUA). Pemkab Purwakarta bersama Kemenag menghadirkan deretan fasilitas mewah secara gratis bagi para pengantin:
1. Biaya Nikah Gratis: Pasangan pengantin cukup membawa maskawin/mahar ke KUA tanpa dipungut biaya akad.
2. Bebas Pilih Mobil Dinas: Pasangan pengantin disiapkan kendaraan pengantin berupa mobil dinas pejabat Pemkab Purwakarta. Pengantin bebas memilih mobil dinas Camat, Kepala Dinas, Sekda, hingga Mobil Dinas Bupati.
3. Pakaian dan Riasan Gratis: Urusan penampilan tidak perlu dipikirkan. Fasilitas pakaian pengantin, riasan, dan makeup telah disediakan penuh oleh Dharma Wanita Kemenag Purwakarta.
4. Uang Amplop dari Bupati: Tidak berhenti pada fasilitas fisik, Om Zein juga memberikan amplop berisi bantuan tunai kepada setiap pasangan yang mengikuti program ini.
Bagi masyarakat yang ingin memanfaatkan fasilitas peminjaman mobil dinas pengantin, pendaftaran dan pelaporan dapat dilakukan secara langsung melalui tempat pengaduan masyarakat Bale Katresna.
Alasan di Balik Program: Mencegah Beban Utang dan Bank Emok
Langkah Om Zein menghadirkan Program Nikah Hemat didasari oleh keprihatinannya terhadap fenomena sosial di tengah masyarakat. Banyak pasangan muda yang terjebak utang demi menggelar resepsi pernikahan yang terkesan mewah.
“Beberapa hari sebelumnya, di beberapa kesempatan saya bertemu dengan seorang pasangan yang sudah menikah mengadu. Imbas dari pinjam uang untuk biaya nikah terjadi perselisihan dalam rumah tangga, karena beban utang,” ujar Om Zein.
Ia menyayangkan dorongan masyarakat yang sering kali memaksakan diri demi gengsi sosial, hingga akhirnya terjerat pinjaman ilegal maupun lembaga keuangan non-formal.
“Niatnya ingin mewah, pakai hiburan, pesta, undang banyak orang, padahal hasil dari utang koperasi dan Bank Emok,” tambah Om Zein.
Melalui program ini, Pemkab Purwakarta ingin mengedukasi masyarakat bahwa esensi pernikahan terletak pada kesakralan ikatan dan kesiapan mengarungi bahtera rumah tangga, bukan pada kemewahan pesta yang berujung masalah keuangan.
Keberlanjutan Program: Pembekalan Keterampilan Usaha
Pemerintah Kabupaten Purwakarta tidak membiarkan para pengantin baru ini begitu saja setelah prosesi akad usai. Om Zein menegaskan bahwa program ini memiliki rencana aksi jangka panjang untuk menjamin kesejahteraan keluarga baru tersebut.
Pemkab Purwakarta akan berkolaborasi dengan Kemenag untuk mengumpulkan para alumni peserta Nikah Hemat guna diberikan pelatihan kerja dan wirausaha.
“Untuk ke depan, Pak Kemenag, yang kemarin sudah mengikuti Nikah Hemat kita kumpulkan untuk diberikan pelatihan keterampilan supaya bisa menghidupi istri, anak, dan keluarga,” pungkas Om Zein.
Dengan adanya integrasi antara fasilitas pernikahan gratis dan pemberdayaan ekonomi pascanikah, Program Nikah Hemat diharapkan mampu menekan angka perselisihan rumah tangga akibat faktor ekonomi, sekaligus membangun pondasi keluarga yang mandiri dan sejahtera di Purwakarta.***
