KESATU.CO, SUKABUMI – Kekayaan hasil laut Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, tak hanya menjadi komoditas segar. Di tangan pelaku UMKM, ikan lokal diolah menjadi produk pangan bernilai tambah yang mampu menjangkau pasar lebih luas.
Salah satunya dilakukan Dapur Ma’is, UMKM kuliner yang mengembangkan aneka olahan berbahan dasar ikan dengan mengandalkan potensi perikanan lokal sebagai bahan baku utama.
Produk yang menjadi andalan Dapur Ma’is adalah dendeng ikan layur, yang dikembangkan sebagai salah satu pilihan oleh-oleh khas Palabuhanratu.
Pemilik usaha yang akrab disapa Ma Is mengatakan, pemanfaatan hasil laut lokal menjadi produk olahan merupakan peluang yang terus dikembangkan agar potensi daerah memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
“Kami mencoba mengolah hasil laut yang ada menjadi produk yang bisa dinikmati masyarakat lebih luas. Jadi bukan hanya ikan segar, tetapi bisa menjadi produk olahan dan oleh-oleh khas Palabuhanratu,” ujar Ma Is.
Ma Is tak ingin usahanya bergantung pada satu jenis produk. Seiring kebutuhan pasar, Dapur Ma’is kini mengembangkan sejumlah varian olahan lain, di antaranya kerupuk ikan layur dan pangsit.
Diversifikasi tersebut menjadi strategi UMKM rumahan untuk memperluas pilihan konsumen sekaligus membuka peluang pasar baru.
“Kami terus mencoba membuat variasi produk supaya konsumen punya banyak pilihan. Harapannya, produk Dapur Ma’is bisa semakin dikenal dan pasarnya juga semakin luas,” katanya.
Inovasi menjadi penting bagi pelaku UMKM di tengah persaingan usaha dan tantangan ekonomi. Pengolahan bahan baku lokal menjadi produk siap konsumsi dinilai mampu meningkatkan nilai jual komoditas sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru.
Dari sisi harga, produk Dapur Ma’is dipasarkan mulai Rp15.000 hingga Rp20.000, tergantung jenis produk, pesanan, dan kemasan.
Harga tersebut membuat produk olahan ikan ini relatif mudah dijangkau, baik untuk konsumsi pribadi maupun dijadikan buah tangan dari Palabuhanratu.
“Harganya kami sesuaikan dengan produk dan kemasannya. Kami ingin tetap terjangkau, sehingga masyarakat bisa membeli untuk konsumsi maupun sebagai oleh-oleh,” tutur Ma Is.
Tak hanya mengandalkan penjualan secara langsung, Dapur Ma’is juga mulai memperluas akses pemasaran. Produknya kini dapat dijumpai di Gerai Dekranasda Kabupaten Sukabumi serta sejumlah toko swalayan di sekitar wilayah tersebut.
Perluasan titik penjualan menjadi bagian dari upaya mempertemukan produk UMKM lokal dengan konsumen yang lebih luas.
Kehadiran Dapur Ma’is menunjukkan bahwa kekayaan perikanan Palabuhanratu memiliki peluang besar untuk dikembangkan tidak sebatas sebagai bahan pangan mentah.
Melalui kreativitas pelaku usaha, ikan layur dan hasil laut lainnya dapat diolah menjadi produk dengan nilai tambah, sekaligus memperkuat identitas kuliner daerah.
Bagi Ma Is, pengembangan usaha bukan sekadar mengejar penjualan. Produk olahan ikan juga menjadi cara untuk memperkenalkan potensi Palabuhanratu kepada konsumen di luar wilayah.
“Harapannya produk kami bisa terus berkembang, semakin dikenal, dan bisa membawa nama Palabuhanratu melalui produk olahan ikan. Yang penting kami terus berinovasi dan menjaga kualitas,” pungkasnya.
