KESATU.CO, SUKABUMI- Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Sukabumi kembali memicu bencana. Kali ini, longsor menerjang Tembok Penahan Tanah (TPT) Saluran Irigasi Leuwibunder di Kampung Datardangdeur, Desa Cijurey, Kecamatan Gegerbitung.
Longsor terjadi pada Minggu (1/11/2026) sekitar pukul 22.30 WIB. TPT saluran irigasi yang terdampak memiliki panjang sekitar 11 meter dengan tinggi 3 meter.
Kerusakan tersebut menjadi perhatian karena saluran irigasi Leuwibunder memiliki peran vital untuk mengairi lahan persawahan seluas kurang lebih 20 hektare sekaligus memenuhi kebutuhan air masyarakat di dua desa.
Manager Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, mengatakan longsor terjadi setelah debit air meningkat akibat hujan dengan intensitas tinggi.
“Longsor terjadi akibat debit air yang cukup besar. TPT saluran irigasi mengalami longsor dengan panjang 11 meter dan tinggi 3 meter,” kata Daeng Sutisna, Senin (2/11/2026).
Menurut Daeng, kondisi tersebut harus segera ditangani agar fungsi saluran irigasi tetap berjalan dan tidak semakin terdampak.
“Saluran irigasi tersebut untuk mengairi lahan persawahan kurang lebih 20 hektare dan untuk kebutuhan warga sehari-hari. Saluran irigasi tersebut untuk mengairi dua desa,” ujarnya.
BPBD Kabupaten Sukabumi bersama unsur terkait langsung melakukan assessment ke lokasi kejadian. Penanganan melibatkan perangkat desa, Tagana, Babinsa, Babinmas, Satpol PP, relawan hingga masyarakat setempat.
Saat ini, masyarakat bersama unsur terkait melakukan kerja bakti untuk menangani bagian TPT yang mengalami longsor.
“Saat ini TPT saluran irigasi dikerjabaktikan,” kata Daeng.
Namun, proses penanganan membutuhkan sejumlah material untuk memperkuat kembali bagian saluran yang terdampak.
BPBD mencatat kebutuhan mendesak berupa bronjong, batu belah, pipa paralon, dan karung.
Hingga Senin (2/11/2026), tidak terdapat laporan korban jiwa maupun warga yang mengungsi akibat kejadian tersebut. Sementara kerugian material masih dalam proses kajian.
BPBD Kabupaten Sukabumi juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana susulan, khususnya saat hujan deras mengguyur wilayah dengan kondisi tanah dan infrastruktur yang rentan.
