KESATU.CO, JAKARTA – Transformasi PT Jaminan Kredit Indonesia (Persero) atau Jamkrindo mulai menunjukkan hasil nyata. Hingga Semester I 2026, laba sebelum pajak perusahaan menembus Rp743,23 miliar, melonjak 34,70 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp551,76 miliar.
Lonjakan laba ini bukan sekadar angka di laporan keuangan. Kinerja tersebut menjadi sinyal bahwa penguatan bisnis, efisiensi, tata kelola, hingga digitalisasi yang dilakukan Jamkrindo mulai memperkuat fundamental perusahaan di tengah tekanan geopolitik dan geoekonomi global.
Direktur Utama Jamkrindo Abdul Bari mengatakan capaian tersebut merupakan hasil dari transformasi yang dilakukan secara terintegrasi, mulai dari bisnis, organisasi, sumber daya manusia, budaya kerja, operasional, hingga sistem dan teknologi.
“Transformasi menjadi fondasi bagi Jamkrindo untuk memperkuat kapabilitas organisasi, meningkatkan kinerja perusahaan, serta menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujar Abdul Bari, Jumat (7/8/2026).
Kinerja positif Jamkrindo juga terlihat dari pertumbuhan bisnis penjaminan.
Hingga 30 Juni 2026, perseroan mencatat imbal jasa penjaminan bersih Rp3,16 triliun, tumbuh 21,49 persen dibandingkan Semester I 2025.
Di saat yang sama, total aset Jamkrindo mencapai Rp29,83 triliun, sedangkan ekuitas berada di angka Rp13,90 triliun.
Yang tak kalah penting, volume penjaminan telah mencapai Rp157,30 triliun dengan cakupan sekitar 2,28 juta pelaku usaha.
Angka tersebut menunjukkan posisi Jamkrindo tidak hanya sebagai perusahaan yang mampu membukukan pertumbuhan laba, tetapi juga memiliki peran besar dalam membuka akses pembiayaan bagi pelaku usaha.
Bagi sektor UMKM, penjaminan menjadi salah satu instrumen penting untuk memperluas akses terhadap pembiayaan ketika keterbatasan agunan maupun profil risiko menjadi hambatan mendapatkan kredit.
Pertumbuhan bisnis Jamkrindo pada akhirnya diarahkan untuk memperbesar manfaat ekonomi. Dengan volume penjaminan yang mencapai ratusan triliun rupiah dan menjangkau jutaan pelaku usaha, perseroan mempertegas perannya dalam memperkuat inklusi keuangan dan ekosistem UMKM.
Fundamental yang semakin kuat juga menjadi modal bagi Jamkrindo untuk mengambil peran lebih strategis dalam industri penjaminan nasional.
Sebagai bagian dari Holding Indonesia Financial Group (IFG), Jamkrindo mendukung agenda konsolidasi dan streamlining industri penjaminan yang menjadi arah strategis pemegang saham.
Abdul Bari menilai konsolidasi tersebut penting untuk membangun industri penjaminan yang lebih kuat, efisien dan kompetitif.
“Konsolidasi dan streamlining merupakan langkah strategis untuk membangun industri penjaminan yang lebih kuat, berdaya saing, dan mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional,” katanya.
Di luar kinerja bisnis, Jamkrindo juga mempertahankan kontribusi sosial dan lingkungan melalui berbagai program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL).
Program seperti Pustaka Lestari, Pelosok Mengajar, Mobil Pelita, pelatihan dan literasi keuangan untuk UMKM, hingga Trash4Cash diarahkan untuk memperluas manfaat perusahaan di bidang pendidikan, pemberdayaan ekonomi dan lingkungan.
Abdul Bari menegaskan transformasi Jamkrindo akan terus dilanjutkan untuk meningkatkan daya saing, memperluas akses pembiayaan UMKM, memperbaiki kualitas layanan, sekaligus menciptakan nilai tambah berkelanjutan.
“Dengan semangat Melayani Sepenuh Hati, kami berkomitmen untuk terus menghadirkan layanan penjaminan yang andal, inovatif, dan tepercaya,” ujarnya.
