KESATU.CON- BANDUNG, Sebagai korporasi perbankan berbendera Badan Usaha Milik Negara (BUMN), tentunya, PT Bank Mandiri TBK (Persero) mencanangkan performa dan kinerja mentereng setiap tahunnya.
Terbukti, korporasi perbankan Merah Putih berkode emiten BMRI itu semakin kaya raya. Itu terjadi setelah hingga akhir 2024, PT Bank Mandiri TBK (Persero) meraup laba bersih konsolidasi bernilai jumbo, yakni Rp55,8 triliun.
Kepada media, dalam konferensi pers virtual Paparan Kinerja Kuartal IV 2024, Darmawan Junaidi, Direktur Utama PT Bank Mandiri TBK (Persero), mengatakan, perolehan laba bersih konsolidasi hingga periode 2024 berakhir itu lebih banyak 1,31 persen daripada pencapaian hingga akhir 2023.
Darmawan Junaidi menjelaskan, positifnya pergerakan bisnis perbankan yang tergabung dalam Himpunan Bank’ Negara (Himbara) itu berkat penerapan dan implementasi strategi yang tepat.
Raupan laba bersih konsolidasi 2024 itu, jelas Darmawan Junaidi, ditopang oleh realisasi penyaluran kredit atau pembiayaan yang masif.
Hingga Desember 2024, tutur dia, secara konsolidasi, pihaknya menggelontorkan kredit bernilai Rp1.670,55 triliun. Nominal kredit terkonsolidasi itu, kata Darmawan Junaidi, bertambah 19,5 persen secara tahunan.
“Kontributor terbesar penyaluran pembiayaan yakni kredit korporasi. Hingga Desember 2024, nominal kredit korporasi bertambah 25,5 persen secara tahunan atau menjadi Rp913,3 triliun” urai Darmawan Junaidi.
Lalu, yakni penyaluran kredit bernilai Rp757,2 triliun, sambung dia, berupa gabungan antara kredit retail dan pembiayaan anak usahanya, yang juga menggeliat 113 persen secara tahunan.
Kemudian, tukasnya, penyaluran kredit bagi segmen Usaha Mikro-Kecil-Menengah (UMKM), ungkapnya, hingga akhir 2024, juga bertambah 6 persen secara tahunan atau menjadi Rp135 triliun.
Luar biasanya, gacornya penyaluran kredit hingga akhir Desember 2024 itu diimbangi pergerakan positif rasio Non-Performing Loan (NPL). Darmawan Junaidi menuturkan, posisi NPL bank only pada akhir 2024 yaitu 0,97 persen.
Bagaimana soal pengelolaan Dana Pihak Ketiga (DPK)?
Darmawan Junaidi menginformasikan, hingga akhir 2024, pihaknya mengelola DPK yang lebih banyak 7,73 persen daripada triwulan IV 2023. Yakni, sebutnya, bernilai Rp1.699 triliun.
Mayrotias DPK, tambah Darmawan Junaidi, yakni 80,3 persen, berupa Current Account Savings Account (CASA) alias dana murah, yang terdiri atas tabungan dan giro.
Hingga triwulan IV 2024, ujarnya, posisi tabungan pada level Rp665 triliun atau bertambah 13,4 persen secara tahunan. Sedangkan posisi giro hingga periode yang sama, imbuhnya, yakni Rp606 triliun, bertambah 3,6 persen secara tahunan. (win/*)
