KESATU.CO – BANDUNG, Performa dan kinerja fluktuatif terkadang dialami setiap korporasi, seperti tidak terkecuali yang berpredikat sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Adalah PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) satu contohnya.
Memang, berdasarkan pelaporan keuangan periode triwulan III 2024, PT PLN (Persero) berhasil meraup laba konsolidasi bernilai jumbo, yakni Rp25,13 triliun.
Sayangnya, perolehan laba bersih korporasi Merah Putih sektor energi listrik tersebut berkurang 3,3 persen secara tahunan.
Artinya, nominal laba bersih PT PLN (Persero) pada akhir Sept 2024, lebih sedikit daripada pencapaian periode sama 2023, yang angkanya Rp25,98 triliun.
Padahal, bersama sejumlah anak usahanya, pada September 2024, PT PLN (Persero) meraup income usaha yang menggeliat 12,42 persen secara tahunan atau menjadi Rp402,56 triliun.
Bertambahnya income usaha tersebut berkat hasil penjualan energi listrik, yang nominalnya lebih banyak 6,91 persen daripada periode September 2023 atau posisinya Rp261,58 triliun.
Penopang bergairahnya income usaha itu juga berkat penyambungan jaringan bagi para pelanggannya. Nilai kontribusinya Rp1,26 triliun.
Sumber income usaha PT PLN (Persero) berikutnya yakni dana Public Service Obligation (PSO) alias subsidi bernilai Rp58,04 triliun.
Kemudian, ada sumber lainnya yakni kompensasi dan lainnya, yang masing-masing bernominal Rp72,62 triliun serta Rp9,04 triliun.
Baca Juga: KAI Daop 2 Bandung: Kereta Tenggak 13 Juta Liter BBM Selama Triwulan III Tahun ini
Lalu, apa yang menjadi biang kerok terkontraksinya laba bersih PT PLN (Persero)?
Terungkap, mengacu pada pelaporan keuangan, beban usaha yang bertambah menjadi biang keladi menyusutnya laba bersih korporasi ketenagalistrikan pelat merah itu.
Selama sembilan bulan sejak awal tahun ini atau periode Januari-September 2024, nominal beban usaha PT PLN (Persero) lebih banyak 14,69 persen daripada momen sama 2023 yakni menjadi Rp358,35 triliun.
Semakin banyaknya beban usaha itu akibat anggaran untuk pemenuhan kebutuhan bahan bakar dan pelumas yang juga bertambah 14,80 persen secara tahunan.
Efeknya PT PLN (Persero) harus menggelontorkan dana bernilai Rp133,33 triliun untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar dan pelumas selama periode Januari-September 2024.
Meski perolehan laba bersihnya menyusut, PT PLN (Persero) masih bisa tersenyum. Pasalnya, korporasi yang berkatagori industri strategis tersebut, kini, punya aset yang semakin berlimpah.
Total nilai aset yang dimiliki PT PLN (Persero) hingga akhir September 2024 yakni Rp1.699,05 triliun atau bertambah 1,70 persen secara tahunan. (*)
