KESATU.CO – BANDUNG, Sepertinya, geliat industri otomotif nasional sedang dalam kondisi tidak baik-baik.
Pasalnya, berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), kinerja penjualan otomotif selama semester pertama 2024 mengalami kontraksi 19 persen secara tahunan atau menjadi 408.012 unit.
Volume itu lebih sedikit daripada realisasi semester awal 2023. Selama Januari-Juni 2023, volume penjualan industri otomotif sebanyak 506.427 unit.
Lesunya kinerja penjualan juga terjadi secara retail sales. Selama paruh perdana 2024, volume penjualan industri otomotif nasional berada pada level 431.987 unit.
Bandingkan dengan realisasi penjualan secara retail sales periode Januari-Juni 2023 yang lebih perkasa, yakni sebanyak 502.533 unit.
Lalu, apa yang menyebabkan kinerja penjualan industri otomotif melempem?
Baca Juga: Putusan BI Terbaru: Tidak Ubah Suku Bunga Acuan, Posisinya Tetap 6,25 persen, Ini Tujuannya
Kepada media, Yusak Billy, Sales and Marketing After Sales Director PT Honda Prospect Motor (HPM), selaku Agen Pemegang Merek (APM) Honda Motor Company, berpendapat, kondisi yang dialami industri otomotif nasional terpengaruh perkembangan ekonomi global.
Selain itu, ujar Oom Billy, sapaan akrabnya, berlangsungnya ajang demokrasi, seperti pemilihan umum (pemilu ( juga cukup berpengaruh.
Terjadinya beragam dinamika itu berakibat pada perusahaan-perusahaan pembiayaan atau multi-finance.
“Tidak sedikit perusahaan multi-finance yang memperketat skema pembiayaannya. Tentunya, ini berefek pada kinerja penjualan industri otomotif,” papar dia.
Menyikapi hal itu, Billy berpandangan, perlu adanya komunikasi dan pembahasan bersama secara komprehensif antara industri otomotif dan perusahaan multi-finance. (*)
