KESATU.CO – Di tengah maraknya inovasi pengelolaan wisata satwa, muncul kritik tajam dari Singky Soewadji, pengurus Aliansi Pecinta Satwa Liar Indonesia (APECSI). Ia menyoroti pergeseran fungsi kebun binatang di Indonesia yang kian menjauh dari esensi konservasi, berubah menjadi sekadar taman hiburan komersial.
“Bagi para rimbawan dan konservasionis sejati, kebun binatang adalah benteng terakhir upaya konservasi ex-situ — tempat perlindungan bagi satwa liar di luar habitat aslinya,” ujar Singky membuka pandangannya.
Menurutnya, banyak kebun binatang di Indonesia kini kehilangan arah. Sejak awal berdirinya, lembaga konservasi itu dimaksudkan sebagai ruang edukasi, pelestarian, dan penelitian. Namun kini, banyak yang terjebak pada orientasi bisnis semata. “Pertanyaannya sederhana,” tegasnya, “kebun binatang ini lembaga konservasi atau taman rekreasi?”
Singky mencontohkan kebijakan sejumlah pengelola yang dinilainya tidak peka terhadap kesejahteraan satwa. Program Night Zoo atau kebun binatang malam di beberapa kota seperti Surabaya dan Jakarta, menurutnya, adalah bentuk salah kaprah dalam memahami konsep konservasi. “Satwa itu butuh istirahat. Sejak pagi sudah diperagakan untuk pengunjung, masa malam masih harus bekerja?” katanya.
Ia menambahkan, praktik semacam itu justru bertentangan dengan prinsip dasar Animal Welfare (kesejahteraan satwa) yang menjadi standar internasional lembaga konservasi. “Kalau mau membuat Night Zoo, arealnya harus terpisah, satwanya pun berbeda — yang siang bisa beristirahat, malam baru aktif. Itu pun perlu pencahayaan khusus dan kendaraan listrik agar tidak menimbulkan stres,” jelasnya.
Sayangnya, Singky menilai, banyak kebijakan justru dibuat tanpa pemahaman ilmiah yang cukup. “Kita lihat Kebun Binatang Surabaya yang sempat buka malam hari, akhirnya gagal. Tapi anehnya, Ragunan kini mau meniru hal yang sama. Ini seperti mengulang kesalahan yang sudah terbukti,” katanya.
Lebih jauh, Singky menilai lemahnya peran pemerintah dan organisasi profesi membuat arah konservasi di Indonesia kian kabur. “Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) itu sekarang mandul. Tidak ada pembinaan, tidak ada pelatihan bagi anggotanya. Sementara kementerian terkait pun seolah abai,” kritiknya.
Ia juga menyinggung kasus penutupan Kebun Binatang Bandung yang dinilai tidak sesuai prosedur. “Itu contoh nyata campur tangan pihak yang tidak memiliki kewenangan terhadap lembaga konservasi. Negara harus hadir, bukan diam. Karena yang dipertaruhkan bukan sekadar kebun binatang, tapi kehidupan satwa dilindungi,” tegasnya.
Kritik Singky tak berhenti di situ. Ia menyoroti banyak kebun binatang yang malah mempercantik taman dengan tumbuhan plastik atau menambah wahana permainan. “Kita mau melestarikan satwa atau mendekorasi taman? Kalau fokusnya ke permainan dan dekorasi plastik, itu bukan lembaga konservasi, tapi taman rekreasi,” ujarnya tajam.
Baca Juga: Youth Space Bandung Kulon, Ruang Baru Kolaborasi Pemuda
Menurutnya, fenomena ini menunjukkan adanya kegagalan sistemik dalam mengelola konservasi di Indonesia. “Bahkan perorangan sekarang bisa punya izin memelihara satwa liar. Ini bukan keberhasilan, tapi tanda kegagalan konservasi in-situ di alam. Lihat saja: gajah masuk kebun sawit, harimau masuk pemukiman. Bukan karena satwanya salah, tapi karena habitatnya dirampas oleh manusia,” papar Singky.
Sebagai aktivis konservasi yang dikenal vokal, Singky mengakhiri pernyataannya dengan pesan keras kepada pemerintah. “Kementerian Kehutanan butuh ahli kehutanan, bukan ahli ketuhanan. Kita butuh raja hutan, bukan raja kata-kata,” sindirnya.
Ia berharap pemerintah baru di bawah Presiden Prabowo Subianto dapat menaruh perhatian lebih besar pada isu konservasi satwa. “Harkat dan martabat bangsa ini sedang dipertaruhkan di dunia internasional. Kalau kita gagal menjaga satwa dan alam, berarti kita gagal menjaga identitas bangsa,” ujarnya.
Singky menutup dengan kalimat yang mencerminkan filosofi perjuangannya:
“Kau peduli, aku lestari. Among satwa amrih lestari.
