KESATU.CO – Dentuman musik, aroma kopi dari stan mahasiswa, dan teriakan riuh penonton menyatu di kawasan Dago, Bandung, akhir pekan ini. Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) seolah hidup kembali dalam warna dan tawa. Dua hajatan besar yang telah lama dinantikan — Lomba Kreatif Peti Sabun (LKPS) dan Pasar Seni ITB 2025 — akhirnya digelar bersamaan setelah absen panjang akibat pandemi.
Rektor ITB Prof. Dr. Tatacipta Dirgantara, M.T., menyebut dua kegiatan itu bukan sekadar agenda kampus, tapi warisan budaya kreatif yang sudah hidup sejak puluhan tahun lalu.
“Dua acara ini sudah ada sejak tahun 70-an dan 80-an. Bukan hanya tentang balapan atau seni, tapi tentang kreativitas. Mahasiswa belajar berkolaborasi, alumni berkumpul, dan masyarakat ikut menikmati,” katanya penuh antusias, Sabtu (18/10)
Gelaran kali ini memang terasa istimewa. ITB memperkirakan lebih dari 600 ribu orang datang selama dua hari penyelenggaraan, 18–19 Oktober 2025. Di satu sisi Dago, deretan booth seniman dan alumni memamerkan karya maestro seperti Hendra Gunawan, Srihadi, hingga Jeihan. Di sisi lain, lintasan menurun penuh warna jadi arena adu cepat dan adu kreatif kendaraan rakitan mahasiswa: peti sabun legendaris ITB.
Bagi Prof. Tatacipta sendiri, momen itu punya makna pribadi. Ia ikut menjajal satu kendaraan. “Tadi saya dikasih tahu ada rem,” ujarnya sambil tertawa. “Tapi pas meluncur, ternyata nggak direm sama sekali! Aman, tapi deg-degan juga. Seru banget, ini pengalaman pertama naik peti sabun.”
Baca Juga: Wali Kota Harap Tiap RW Miliki Sprinkler untuk Pencegahan Dini Kebakaran
Lomba Peti Sabun yang diselenggarakan oleh Damas (Daya Mahasiswa Sunda) tahun ini diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai kategori: dari legenda, mahasiswa, hingga pelajar SMA. Ajang ini dibagi dua kategori — kecepatan dan fun race — yang membuat penonton tak pernah berhenti tertawa sekaligus berdecak kagum.
“Ada yang buat peti sabun bentuk naga, ada juga yang mirip pesawat ruang angkasa,” ungkap Ketua DAMAS, Salim Saleh sambil tersenyum. “Kami ingin acara ini bukan hanya kompetisi, tapi ruang kreativitas. Ada yang fokus ke kecepatan, ada juga yang lucu-lucuan, semuanya seru.”
Tradisi LKPS sempat berhenti selama 35 tahun, terakhir digelar pada 1988. Baru pada 2023–2024 ajang ini dihidupkan kembali dan langsung mencuri perhatian publik. Tahun ini, kolaborasi dengan Pasar Seni ITB membuat suasananya makin meriah.
Selain menjadi wadah nostalgia, acara ini juga punya nilai ekonomi besar. Rektor ITB menuturkan, ribuan pengunjung dan pelaku UMKM lokal turut terdampak positif.
“Kalau 600 ribu orang datang ke Bandung, bisa dibayangkan dampak ekonominya,” ujar Tatacipta. “Selain itu, acara ini juga jadi latihan besar bagi mahasiswa untuk mengelola event, tampil, dan berjejaring dengan masyarakat luas.”
Sore mulai turun di Dago. Sorak penonton masih terdengar setiap kali peti sabun meluncur di lintasan, diiringi tawa lepas para peserta. Di kejauhan, bunyi gamelan dan musik modern dari Pasar Seni menambah semarak suasana.
Bagi warga Bandung, ini bukan sekadar hiburan akhir pekan — tapi pengingat bahwa kreativitas, kebersamaan, dan semangat muda tak pernah lekang oleh waktu.
