KESATU.CO – BANDUNG, Demi kelestarian alam banyak negara yang menggulirkan agenda dekarbonisasi alias Net Zero Emission (NZE). Begitu pula dengan Indonesia.
Di tanah air, pemerintah mencanangkan agenda NZE tercapai 100 persen pada 2060. Tentunya, banyak industri dan korporasi yang serius mendukung program-program go green demi tercapainya NZE 2060.
Adalah industri ternama sekaligus Agenda Pemegang Merek (APM) produsen otomotif raksasa asal Jepang, Toyota Motor Corporation, yakni PT Toyota Astra Motor (TAM) satu di antaranya.
Bagaimana caranya?
Demi terealisasinya NZE 2060, PT TAM menyusun dan mengeksekusi rencana-rencananya. Antara lain, merilis produk berbasis elektrik, baik berskema full Electric Vehicle (EV), Plug-In Hybrid Electric Vehicle (PHEV), Hybrid Electric Vehicle (HEV), maupun Battery Electric Vehicles (BEV), termasuk menggarap proyek mobil berbahan bakar hidrogen.
Kini, ada jurus terbaru yang dilakukaN PT TAM untuk lebih mengakselerasi tercapainya NZE 2060. Yakni, bersama korporasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor energi, PT Pertamina (Persero).
Melalui anak usahanya, PT PT Serasi Autoraya alias Toyota Rent A Car (TRAC), PT TAM sepakat dengan PT Pertamina (Persero) Patra. Niaga untuk mengkaji dan mempelajari efektivitas pemanfaatan energi alternatif agar emosi kendaraan bermotor lebih tereduksi.
Hiroyuki Ueda, President Director PT TAM, menyatakan, bersama PT Pertamina (Persero) Patra. Niaga, pihaknya sepakat mengkaji efektivitas pemanfaatan energi alternatif berkenaan dengan kadar emisi kendaraan.
“Pengkajian itu melalui pola The Use Case Collaboration. Skema itu sesuai dengan Multi Pathway Strategy pada fase transisi energi,” tandas pria berusia 60 tahun itu.
Baca Juga: Alhamdulillah, Bantuan Pangan Beras Tahap 3 Bergulir, Bulog Sasar 4,4 Juta Penerima, Volumenya?
Dalam The Use Case Collaboration, jelas Hiroyuki Ueda, pihaknya menyediakan seluruh teknologi yang tersemat pada produk-produknya, termasuk model elektrifikasi, untuk menggunakan bioetanol E10 yang dikembangkan PT Pertamina (Persero) Patra. Niaga sebagai bahan bakar alternatif di Indonesia.
Riva Siahaan, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Patra Niaga, menambahkan, pengembangan bioetanol E10 itu sebagai tindak lanjut pemanfaatan bioetanol E5 yang terdapat pada Pertamax Green 95. Harapannya, uji coba penggunaan bioetanol E10 itu bisa menghasilkan pembakaran yang lebih bersih dan ramah lingkungan.
Selain meminimalisir emisi rumah kaca demi lebih terakselerasinya NZE 2060, sambung Riva Siahaan, kolaborasi dengan TRAC pun membuka peluang kerja yang lebih besar.
Tidak itu saja, tambahnya, kolaborasi ini juga sekaligus bentuk komitmen jajarannya menyejahterakan petani, yang turut terlibat dalam supply chain bioetanol. (win)
