KESATU.CO – BANDUNG, Meski perkembangan ekonomi global masih mengalami ketidakpastian, ternyata, sektor perbankan nasional, khususnya di Jabar, berhasil menunjukkan keperkasaannya.
Hal itu tercermin pada performa dan kinerja perbankan yang tetap menggiat selama periode Januari-Juni 2024.
Imansyah, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jabar, dalam keterangannya, mengungkapkan, beberapa indikator pergerakan positif perbankan di Jabar pada semester awal tahun ini.
Antara lain, sebut Imansyah, hingga Juni 2024, perbankan di Jabar semakin kata raya karena memiliki aset bernilai super sultan, yakni Rp914 triliun.
“Secara tahunan, nilai aset perbankan di Jabar pada semeester pertama 2024 itu bertambah Rp76 triliun atau 8,33 persen,” tandasnya.
Indikator selanjutnya, ucap Imansyah, yaitu mewahnya penyaluran pembiayaan.
“Hingga Juni 2024, penyaluran kredit perbankan di Jabar bertambah 8,26 persen secara tahunan atau posisinya menjadi Rp606 triliun atau berkontribusi 8,11 persen total kredit perbankan nasional,” tuturnya.
Di Jabar, kata Imansyah, perbankan konvensional masih mendominasi penyaluran kredit. Pada semester I 2024, persentase penyaluran kredit oleh perbankan konvensional yakni 89,03 persen atau setara dengan Rp564 triliun.
Tidak hanya dominan, seru Imansyah, nilai penyaluran kredit oleh perbankan konvensional di Jabar hingga semester perdana 2024 itu lebih banyak 8,88 persen daripada momen sama 2023.
“Sisanya, yakni bernilai Rp69,6 triliun, merupakan penyaluran pembiayaan oleh perbankan syariah,” kata Imansyah.
Baca Juga: Cara Terkini KAI Perkuat Fasilitas Kereta: Ajak CRRC Qingdao Sifang dan INKA Kolaborasi
Walau porsinya masih sedikit, yakni 10,97 persen, sambung dia penyaluran pembiayaan perbankan syariah di Jabar apda triwulan II 2024 tersebut bergeliat 12,54 persen secara tahunan.
Bicara soal rasio Non-Performing Loan (NPL)), secara kumulatif, kata Imansyah, mengalami perkembangan positif.
Pada Juni 2024, kata dia, secara kumulatif, posisi NPL perbankan di Jabar yakni 2,26 persen, lebih baik daripada periode sama tahun lalu, yakni 2,41 persen.
Khusus perbankan konvensional, imbuhnya, pada Juni 2024, rasio NPL berasa pada level 3,18 persen. “Sedangkan rasio NPF (Non-Performing Finance) perbankan syariah di Jabar, posisinya 3,01 persen,” ungkap dia.
Bagaimana dengan realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui perbankan di Jabar? Imansyah menyampaikan, secara total nasional, hingga Juni 2024 penyaluran KUR bernilai Rp141,8 triliun.
“Di Jabar, penyalurannya (KUR) yakni 9,84 persen total KUR nasional atau bernilai Rp13,84 triliun. Sebanyak 231.588 pelaku usaha menjadi debitur KU ,” urai dia.
Sektor usaha mikro memiliki porsi penyaluran KUR terbanyak, yakni Rp8,63 triliun. Segmen berikutnya yakni usaha kecil yang menerima dana KUR bernominal Rp5,13 triliun,
Selain kredit dan pembiayaan, Imansyah meneruskan, pengelolaan Dana Pihak Ketiga (DPK) oleh perbankan di Jabar pun mengalami perkembangan positif.
Hingga triwulan II 2024, tambah dia, nominal pengelolaan DPK berasa pada level Rp669 triliun atau bertambah 4,61 persen secara tahunan. (*)
