KESATU.CO – BANDUNG, Beragam cara dilakukan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pangan, khususnya beras. Selain terus menyerap beras petani, pada tahun ini, pemerintah pun memberlakukan importasi beras.
Lalu, apakah kebijakan impor beras berlanjut pada 2025?
Kepada media, Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Bidang Pangan, menegaskan, tahun depan, tidak ada lagi impor beras.
“Selain beras, tidak ada lagi impor beberapa komoditas lainnya, seperti jagung pakan ternak, garam konsumsi, dan gula konsumsi,” tandas Zulhas, sapaan akrabnya, kepada media, dalam Konferensi Pers Penetapan Neraca Komoditas Pangan Tahun 2025 di Graha Mandiri Jakarta belum lama ini.
Mantan Menteri Perdagangan ini mengatakan, ada hal yang mendasari pemerintah memutuskan untuk tidak mengimpor beras, yaitu stok konositas pangan tersebut
Dia memperkirakan, ketersediaan beras pada 2025 cukup berlimpah. Bahkan, kata dia, volume stok beras pada 2025 melebihi kebutuhan.
Baca Juga: Dirut KAI Bicara Soal Nataru, Apa Katanya? Kami Sangat Siap Layani Penumpang
“Prediksinya, volume stok beras pada 2025 sebanyak 32 ton. Sedangkan kebutuhan beras dalam kondisi normal, yakni tidak terjadi hencana alam dan kejadian luar biasa, pada posisi 31 ton,” papar Zulhas.
Namun, ujarnya, kebijakan impor beras bisa saja bergulir apabila pada 2025 terjadi bencana alam atau kejadian luar biasa lainnya.
Soal garam, Zulhas menginformasikan, seperti halnya beras, stok komoditas ini pun melebihi kebutuhan. Stok garam nasional, ujarnya, sekitar 800 ribu ton, lebih banyak 200-300 ribu ton daripada kebutuhan.
Meski demikian, untuk kebutuhan industri, Zulhas menyatakan, pemerintah masih memberlakukan importasi garam. Volumenya, tutur politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu, yakni 1,7 juta ton, lebih sedikit daripada impor sebelumnya, yaitu 2,5 juta ton.
Begitu juga dengan gula konsumsi. Zulhas menegaskan, pemerintah tidak lagi mengimpornya pada 2025. Pasalnya, terang dia, volume produksi gula 2024 bertambah 200 ribu ton atau menjadi 2,4 juta ton.
“Tahun depan, estimasi volume produksi gula pada level 2,6 juta ton,” sahutnya.
Putusan penghentian importasi beras, garam, dan gula konsumsi itu, ujar Zulhas, merupakan upaya dan komitmen jajarannya demi merealisasikan instruksi Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yaitu tercapainya swasembada pangan, yang targetnya pada 2027. (win)
