KESATU.CO, PURWAKARTA — Sebuah kisah mengharukan datang dari Kabupaten Purwakarta, di mana seorang kakak ipar bernama Ibu Eha harus menanggung beban berat demi menyelamatkan proses persalinan anggota keluarganya.
Niat tulus membantu justru berujung pada pengorbanan besar ketika ia harus mempertaruhkan sertifikat rumah miliknya demi biaya rumah sakit.
Kisah pilu ini dibagikan melalui kanal YouTube resmi SAEPUL BAHRI BINZEIN | OM ZEIN CHANNEL, yang memperlihatkan detik-detik saat Ibu Eha mencurahkan isi hatinya kepada Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, atau yang akrab disapa Om Zein.
Pengorbanan 6 Tahun Demi Utang Rumah Sakit
Peristiwa bermula sekitar tahun 2020 ketika adik ipar Ibu Eha, yaitu Dandi, membutuhkan tindakan medis darurat untuk proses persalinan istrinya.
Karena prosedur tersebut tidak ditanggung oleh asuransi kesehatan, Ibu Eha lantas turun tangan untuk memberikan pertolongan pertama agar persalinan bisa segera ditangani.
Tanpa pikir panjang demi keselamatan sang keponakan yang akan lahir, Ibu Eha menggunakan sertifikat rumah miliknya sendiri sebagai jaminan agar pihak rumah sakit mengeluarkan surat jaminan pembayaran.
Namun, niat mulia tersebut berubah menjadi ujian panjang dalam hidupnya.
Selama enam tahun berikutnya, beban finansial untuk mencicil dan menanggung utang tersebut harus dipikul seorang diri oleh Ibu Eha bersama mendiang ibu mertuanya.
Sementara itu, sang adik ipar, Dandi, kesulitan untuk ikut berkontribusi karena terkendala masalah pribadi serta kondisi menganggur.
Dalam curhatannya kepada Om Zein, Ibu Eha sempat menumpahkan perasaan sedih dan sesak di dadanya.
Ia merasa terpukul lantaran niat baiknya untuk membantu keluarga justru berubah menjadi beban hidup yang berkepanjangan.
“Nyeri hate ku abdi ditolongkeun geuninganan ka abdi teh kitu ngabalesna… Najan abdi ayeuna ceuk paribasana ngan ukur sakadar masihan emut sertifikat, da abdi teh nyaah,” ungkap Ibu Eha dengan nada bergetar mengenang perjuangannya bersama almarhumah ibu mertua.
Turun Tangannya Om Zein Menyelesaikan Masalah
Mendengar kisah penuh pengorbanan tersebut, Om Zein langsung menunjukkan empati mendalam dan bergerak cepat untuk membantu menyelesaikan masalah yang membelit Ibu Eha selama bertahun-tahun.
Menurut Om Zein, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya asalkan ada niat tulus untuk menyelesaikannya.
“Kalau tidak ada masalah yang belum selesai, yang penting kita mau menyelesaikannya,” ujar Om Zein, menekankan pentingnya rasa kepedulian antarsesama manusia.
Om Zein kemudian membantu melunasi sisa utang di rumah sakit sebesar Rp3.741.000. Tidak hanya memberikan bantuan finansial, Om Zein juga mendampingi langsung Ibu Eha mendatangi rumah sakit untuk melunasi pembayaran terakhir, mengambil kembali sertifikat rumah yang selama bertahun-tahun digadaikan, sekaligus menuntaskan persoalan keluarga tersebut secara tuntas.
Pesan Tegas dan Tanggung Jawab Moral
Di balik kebahagiaan atas terselesaikannya masalah sertifikat rumah tersebut, Om Zein juga memberikan teguran serta nasihat penting kepada Dandi selaku adik ipar.
Ia dengan tegas mengingatkan agar Dandi belajar bertanggung jawab penuh atas perbuatannya di masa lalu, tidak terus-menerus mengandalkan bantuan kakak ipar, serta menyadari pentingnya meminta maaf.
Ketika ditanya oleh Om Zein mengenai rasa bersalahnya karena telah membuat Ibu Eha menangis dan terbebani, Dandi hanya menjawab singkat, “Hilap” (khilaf).
Meski demikian, setelah didorong untuk memperbaiki diri, Dandi menyatakan kesiapannya untuk meminta maaf secara langsung kepada sang kakak.
Peristiwa ini menjadi refleksi mendalam mengenai arti pengeluaran keluarga, ketulusan seorang kakak ipar, serta pentingnya kehadiran pemimpin yang peka terhadap kesusahan rakyatnya.
Dengan tuntasnya masalah ini, Ibu Eha akhirnya bisa bernapas lega, sementara Om Zein menutup kisah tersebut dengan sebuah prinsip hidup yang sarat makna: “Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya, tetaplah berbuat baik.”***
