KESATU.CO – BANDUNG, Terjadinya beragam dinamika, termasuk ekonomi global, berdampak pada perekonomian nasional. Tidak tertutup kemungkinan, kondisi itu pun berpengaruh pada industri jasa keuangan (IJK), semisal perbankan.
Indikasinya, ada prediksi yang disampaikan OJK tentang perolehan laba bersih industri perbankan nasional.
Kepada media, Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, menyatakan, memang, pihaknya tetap optimistis bahwa penyaluran pembiayaan perbankan pada tahun ini masih berprospek positif.
“Tapi, dalam hal perolehan laba bersih, perkiraannya, lebih kecil daripada realisasi tahun sebelumnya (2023),” tandas Dian Ediana Rae.
Pada 2023, ungkap Dian Ediana Rae, industri perbankan membukukan laba yang bergeliat 20,57 persen lebih banyak daripada 2022 atau posisinya Rp243,33 triliun. Sedangkan laba bersih perbankan periode 2022, kata Dian Ediana Rae, yakni Rp201,82 triliun.
Tahun ini, lanjut Dian Ediana Rae, hingga Agustus 2024, nominal laba bersih yang diraup industri perbankan berada pada level Rp 171,03 triliun.
Secara tahunan, raupan laba hingga Agustus 2024 itu “hanya” terkerek 6,42 persen secara tahunan.
Mantan Kepala Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Jabar ini, ada beberapa faktor yang menyebabkan perolehan laba perbankan bergerak lambat.
Antara lain, ujar dia, selain efek ekonomi global, seperti pengurangan suku bunga, juga adanya beberapa perbankan yang mengalami kerugian yang merupakan dampak upaya-upaya mereka memperkuat pencadangan sebagai antisipasi dan mitigasi untuk meminimalisir risiko kredit.
Pengurangan suku bunga itu pun, sambungnya, bisa mengurangi Cost of Fund perbankan. Tujuannya, kata Dian Ediana Rae, agar perbankan tetap memperrtahankan rasio Net Interest Margin (NIM) sesuai estimasi dan proyeksinya.
Masih soal pembiayaan atau kredit, Dian Ediana Rae menyatakan, tahun ini, pihaknya mencanangkan pergerakan positif 9-11 persen.
“Jika memperhatikan perkembangan penyaluran pembiayaan selama periode Januari-September 2024, kami optimistis bahwa kondisinya masih on the track,” paparnya.
Secara kumulatif, sebut Dian Ediana Rae, pada Januari-September 2024, industri perbankan menyalurkan pembiayaan bernilai Rp7.579,25 triliun atau menggeliat 10,85 persen secara tahunan.
Namun, sambung Dian Ediana Rae, penyaluran pembiayaan periode September 2024 lebih sedikit 11,4 persen daripàda Agustus 2024.
Industri perbankan berbalut Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih menjadi penopang utama perkembangan kredit, yakni menggeliat 12,80 persen secara tahunan (*)
