KESATU.CO – BANDUNG, Meski rencana perubahan fungsi Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) kembali seperti awal kehadirannya masih dalam proses pembahasan, korporasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini tetap menunaikan perannya sebagai stabilisator pangan nasional.
Demi terwujudnya target Presiden Republik Indonesia kedelapan, Prabowo Subianto, yakni swasembada pangan, Perum Bulog punya jurus agar misi terwujudnya swasembada pangan lebih terakselerasi. Seperti apa jurusnya?
Pada Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Epi Sulandri, Kepala Divisi Hubungan Kelembagaan Perum Bulog, mengungkapkan, penyerapan beras domestik merupakan bagian strategi jajarannya memperkuat stabilitas dan ketahanan pangan nasional.
“Seiring dengan berhentinya program impor beras, kami terus mengoptimalkan penyerapan beras petani,” tandas Epi Sulandri.
Dia meneruskan, optimalisasi penyerapan beras petani juga memperkuat stok dan ketersediaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) tetap aman.
Tahun ini, ungkapnya, pihaknya mengemban tugas yang tidak ringan yang diamanatkan pemerintah berkenaan dengan penyerapan beras petani.
Epi Sulandri menyatakan, penugasan pemerintah pada 2025 yaitu menyerap beras petani sebanyak 3 juta ton.
Pada akhir Januari 2025, ujarnya, volume penyerapan masih pada level belasan ribu ton. Perbandingannya dengan periode sama 2023, Epi Sulandri mengklaim bahwa volume penyerapan beras petani tahun ini lebih masif.
“Periode sama 2023, volume penyerapan beras petani lebih sedikit, yaitu 5-6 ribu ton,” sahutnya.
Baca Juga: Dari Indonesia, Toyota Ekspor 270 Ribu Unit ke Banyak Kawasan, Negara Mana Saja Tujuannya?
Melihat pencapaian positif pada awal 2025, Epi Sulandri menegaskan, pihaknya, yang saat ini mengelola 1,9 juta ton beras, yakin bisa menyerap beras petani lebih masif.
Pihaknya pun, lanjutnya, optimis bahwa produktivitas para petani semakin membaik karena adanya penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) beras bernilai Rp6.500 per kilo gram.
Tidak hanya penyerapan beras petani secara masif, Epi Sulandri menambahkan, agar stabilitas dan ketahanan pangan nasional lebih kokoh, pihaknya juga mengaktifkan seluruh jaringan, di antaranya pergudangan dan kantor.
Jurus berikutnya, kata dia, yakni aktivasi 10 Sentra Penggilingan Padi (SPP) plus 7 Sentra Pengolahan Beras (SPB). “Kedua sentra itu kami aktifkan agar proses pengolahan lebih optimal sehingga produk beras lebih berkualitas,” tegasnya.
Infrastruktur lainnya yang juga teraktivasi guna menopang kualitas produk, tambahnya, yaitu adanya 5 unit Rice Milling Unit (RMU) pada beberapa titik.
“Supaya lebih optimal, pola sinergi juga kami terapkan. Hingga kini, kami berkolaborasi dengan 327 supplier,” ungkapnya.
Pola kerja sama lainnya, imbuh dia, yaitu bekerja sama dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan Mitra Penggilingan Padi (MPP). (win/*)
