KESATU.CO – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Barat menggelar IKP Talks #12 di Aula Timur Gedung Sate, Kota Bandung, Selasa (25/11/2025).
Forum diskusi yang diikuti secara luring dan daring ini secara khusus mengulas strategi penulisan rilis pers yang efektif agar informasi pemerintah dapat diterima dengan baik oleh media massa.
Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Diskominfo Jabar, Nidar Naim mengatakan, pemberitaan kinerja pemerintah daerah saat ini sangat masif.
Baca Juga: KDM Minta Daerah di Jabar Siap Hadapi Potensi Bencana
Di tengah arus informasi tersebut, peran Pranata Humas menjadi krusial untuk meluruskan isu yang berkembang melalui rilis yang tepat sasaran.
“Di tengah gencarnya pemberitaan saat ini apakah rilis pemerintah masih relevan, apalagi jika isinya terlalu birokratis? Apakah teori jurnalis kehumasan masih relevan? Hal ini yang akan kita bahas di IKP Talk dengan menghadirkan praktisi jurnalis,” ujar Nidar di Bandung, Selasa (25/11/2025).
Menurut Nidar, tren konsumsi informasi masyarakat telah bergeser ke narasi singkat yang didukung visual foto atau video. Hal ini terlihat dari tingginya akses publik terhadap media sosial.
Oleh karena itu, humas pemerintah dituntut memahami sudut pandang (point of view) media mainstream agar rilis yang disebar relevan dengan agenda pemberitaan redaksi.
“Humas perlu melihat kecepatan media terbaru, khususnya medsos. Selain itu, Humas harus mampu membaca POV media mainstream terkait apa yang menjadi agenda pemberitaannya sehingga mampu menyediakan rilis yang relevan,” ujar Nidar.
Baca Juga: Data PHK Jawa Barat Tinggi? Disnakertrans Jabar Ungkap Kondisi Sebenarnya
Sebagai tindak lanjut, Diskominfo Jabar berencana menggelar bootcamp untuk meningkatkan kompetensi humas di kabupaten dan kota. Materi yang disiapkan mencakup komunikasi berbasis data, manajemen krisis, hingga produksi konten lintas kanal.
Dalam kesempatan yang sama, Redaktur Kumparan M. Riski Gaga mengungkapkan dapur redaksi media massa.
Ia menyebut, seleksi berita dilakukan sangat ketat melalui rapat redaksi yang bisa berlangsung setiap menit.
Riski menyebut, media mainstream bisa menerima ratusan rilis setiap harinya, namun hanya sedikit yang akhirnya diangkat menjadi berita.
“Rilis kami terima ratusan dalam sehari, hanya sedikit yang menarik minat untuk dibaca. Hanya paragraf pertama saja, jika menarik bisa saja dibaca sampai akhir. Namun, jika tidak relevan dengan isu hangat, biasanya tidak dilanjutkan,” ujarnya.
Baca Juga: Riset Vokasi Perkuat Ketahanan Pangan Garut, Kolaborasi Kampus–Daerah Makin Strategis
Riski menyarankan, teknik penulisan rilis pers harus langsung pada inti masalah, padat, dan akurat. Hal ini menjadi kunci agar rilis pemerintah memiliki nilai berita tinggi dan tidak diabaikan oleh media.***
