KESATU.CO – Peningkatan kompetensi tenaga kerja di sektor kuliner kembali mendapat perhatian melalui pelatihan dan sertifikasi skema Demi Chef yang diselenggarakan LPT Panghegar. Program ini tidak hanya berfokus pada aspek teori, tetapi juga menekankan kesiapan praktis peserta dalam menghadapi tantangan operasional dapur, khususnya dalam skala produksi besar seperti pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Narasumber sekaligus anggota ICA (Indonesian Chef Association) Jabar, Chef Budi Muslihat, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk menjembatani pengalaman kerja peserta dengan standar kompetensi yang diakui secara nasional. Ia menilai bahwa sebagian besar peserta telah memiliki latar belakang kerja di dapur, sehingga pendekatan pelatihan lebih diarahkan pada penyelarasan kemampuan dengan kebutuhan sertifikasi.
Menurut Chef Budi Muslihat, dalam struktur dapur profesional, posisi Demi Chef umumnya berada pada level menengah. Namun, dalam konteks SPPG, peran tersebut memiliki tanggung jawab yang lebih besar karena peserta yang mengikuti pelatihan merupakan penanggung jawab utama operasional dapur.
“Peserta yang hadir saat ini sebagian besar sudah terbiasa bekerja di dapur. Mereka bukan pemula, melainkan sudah memiliki pengalaman. Tantangannya bukan lagi pada kemampuan dasar, tetapi pada bagaimana mengelola produksi makanan dalam jumlah besar dengan kualitas yang tetap terjaga,” ujarnya, Sabtu (18/04/2026).
Ia menambahkan bahwa salah satu aspek penting dalam pelatihan ini adalah kemampuan manajemen produksi. Peserta dituntut untuk memahami teknik pengolahan makanan dalam skala besar, termasuk strategi persiapan, pengolahan, hingga penyajian agar tetap memenuhi standar mutu dan keamanan pangan.
Chef Budi Muslihat menilai bahwa tantangan utama yang dihadapi peserta terletak pada penyesuaian metode kerja. “Memasak dalam jumlah kecil dan besar tentu berbeda. Diperlukan teknik khusus agar hasilnya tetap konsisten. Ini yang menjadi fokus dalam pelatihan, bagaimana peserta mampu mengelola proses tersebut secara efektif,” jelasnya.
Selain aspek teknis, pelatihan ini juga menekankan pentingnya kesiapan administratif sebagai bagian dari proses sertifikasi. Salah satu syarat utama yang harus dipenuhi peserta adalah penyusunan portofolio kerja. Dokumen ini berfungsi sebagai bukti pengalaman dan kompetensi yang dimiliki peserta selama menjalankan tugas di dapur.
“Portofolio menjadi bagian penting dalam uji kompetensi. Ini bukan sekadar formalitas, tetapi bukti nyata bahwa peserta memiliki pengalaman kerja yang relevan. Oleh karena itu, kami mendorong peserta untuk mempersiapkannya secara serius, termasuk dengan dukungan dari institusi tempat mereka bekerja,” kata Budi Muslihat.
Melalui pelatihan ini, peserta juga didorong untuk meningkatkan kesadaran terhadap standar kerja profesional. Chef Budi Muslihat menegaskan bahwa sertifikasi bukan hanya tentang memperoleh pengakuan, tetapi juga tentang membangun disiplin dan tanggung jawab dalam bekerja.
Ia berharap, program pelatihan ini dapat memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas layanan dapur, khususnya di lingkungan SPPG. Dengan tenaga kerja yang terlatih dan tersertifikasi, kualitas produksi makanan diharapkan semakin terjaga, baik dari sisi rasa, kebersihan, maupun keamanan.
“Pelatihan ini menjadi langkah penting dalam membentuk tenaga kerja yang profesional dan siap menghadapi tuntutan industri. Dengan kompetensi yang terstandar, mereka tidak hanya mampu bekerja dengan baik, tetapi juga memiliki daya saing yang lebih tinggi,” tutupnya.
