KESATU.CO – BANDUNG, Beragam kendala kerap terjadi kapan pun secara tidak terduga. Kondisi itu yang sempat dialami para penumpang Pasundan tambahan (Kiaracondong-Surabaya Gubeng).
Ayep Hanapi, Manager Hubungan Masyarakat (Humas) PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero) Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung, mengiyakan pada 28 Desember 2024 Pasundan Tambahan sempat mengalami kendala.
“Benar, Pasundan Tambahan mengalami kendala. Karena itu, kami menyampaikan permohonan maaf kepada para penumpang,” tandas Ayep Hanapi.
Pasundan Tambahan, jelas Ayep Hanapi, mengalami keterlambatan perjalanan. Gangguan teknis, dalih Ayep Hanapi, akibat gangguan teknis.
“Ketika berhenti di Stasiun Cipeundeuy pukul 11.05 WIB secara normal, teknisi kami menemukan adanya kendala teknis pada satu rangkaian Pasundan Tambahan,” papar Ayep Hanapi.
Jadi, demi keselamatan dan kenyamanan perjalanan, lanjut Ayep Hanapi, tim teknis memerlukan waktu untuk menangani permasalahan teknis itu karena butuh ketelitian dan kehati-hatian.
Sebagai bentuk kompensasi, tutur Ayep Hanapi, pihaknya mengembalikan biaya perjalanan sebesar 50 persen tarif tiket. Pengembalian biaya 50 persen itu, terang dia, bagi para penumpang yang bersedia melanjutkan perjalanannya.
Sedangkan para penumpang yang enggan melanjutkan perjalanan, sahut dia, pihaknya mengembalikan biaya perjalanan 100 persen.
Baca Juga: Bukan Hanya Batik, 1.000 UMKM Pekalongan Bersinar Berkat Rumah BUMN BRI
Secara terpisah, Executive Vice President (EVP) PT KAI (Persero) Daop 2 Bandung, Dicky Eka Priandana, berbicara tentang volume penumpang khususnya di Stasiun Kiaracondong.
Dicky Eka Priandana mengemukakan, selama 19-29 Desember 2024 periode Masa Angkutan Natal-Tahun Baru (Nataru) 2024-2025, Stasiun Kiaracondong disesaki 75.245 orang penumpang.
Terdiri atas, ujar Dicky Eka Priandana, sebanyak 39.267 orang penumpang yang berangkat. Sisanya, sebanyak 34.978 orang penumpang yang tiba di stasiun tersebut.
“Banyaknya penumpang, khususnya di Stasiun Kiaracondong menunjukkan kereta semakin menasbihkan kereta sebagai moda transportasi primadona karena besarnya respon dan animo masyarakat,” urai Dicky Eka Priandana. (win)
