KESATU.CO – Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat telah memulai inisiatif pemantauan dan pengevaluasian terhadap kinerja mesin Insinerator sebagai salah satu solusi inovatif dalam pengelolaan sampah.
Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk menanggapi permasalahan sampah yang terus meningkat, khususnya di wilayah Jawa Barat.
Melalui survei dan penilaian terhadap efisiensi dan efektivitas mesin Insinerator, Dinas Lingkungan Hidup berharap dapat menemukan solusi terbaik dalam mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA (Tempat Pembuangan Akhir).
Kegiatan survei ini diatur untuk mengumpulkan data terkait dengan operasional mesin, termasuk kapasitas pengolahan, konsumsi energi, serta dampak lingkungan dari proses pembakaran sampah.
Hasil dari survei dan evaluasi ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai manfaat dan tantangan implementasi teknologi Insinerator dalam skala yang lebih luas. Selain itu, Dinas Lingkungan Hidup juga mengincar untuk mengidentifikasi potensi peningkatan atau modifikasi teknologi yang dapat meningkatkan kinerja pengolahan sampah, sekaligus mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.
Inisiatif ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah provinsi Jawa Barat, yang serius dalam mengatasi masalah sampah dengan cara yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Melalui kerjasama dengan berbagai pihak, termasuk lembaga penelitian dan pengembangan, serta komunitas lokal, Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat berharap dapat menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif, efisien, dan inovatif.
“Kinerja mesin tungku bakar insinerator sampah di desa Cilampeni ini sangat bagus. Dengan melayani sampah di beberapa RW di sini, persoalan sampah desa Cilampeni ini selesai di daerahnya masing-masing,” ungkap Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat Nitta Nilawati, Kamis (06/02/2025).
Baca Juga: Dugaan Kasus Gratifikasi Mobil Mewah, Mantan Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika Diperiksa Kejari“Bahkan dari penuturan pembuat mesin insinerator ini, Pak Heru menerangkan bahwa insinerator yang type Large (besar) mampu bakar sampah 1 ton per jam dengan output tanpa ada asap yang bisa mengganggu lingkungan,” terangnya.
Nita berharap, surveynya kali ini bisa jadi solusi untuk persoalan sampah di wil.khusus Jabar. Apalagi, persoalan pembuangan sampah ke Pasir Bajing belum lama ini menuai kritik dan protes dari aktivis lingkungan di Garut.
“Semoga, persoalan sampah bisa tersolusikan dengan saya survey ke Cilampeni ini. Dengan melihat langsung kerja insinerator, memahami mekanismenya dan butuh lahan berapa besar untuk menampung insinerator yang diperlukan,” pungkas Nita menutup pembicaraan.
