KESATU.CO – Setiap disrupsi selalu membawa peluang transformasi. Yang dibutuhkan bukan sekadar akun media sosial baru atau jargon digitalisasi, melainkan mindset digital. Mindset ini menuntut keberanian untuk belajar, kesediaan untuk mendengar, dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kebenaran kini bersifat dialogis, bukan sepihak. Pemimpin yang hebat adalah ia yang mampu menyeberangkan rakyatnya melintasi jurang epistemik, bukan yang membiarkan mereka terpecah di kedua sisi tebing.
Ada istilah yang kini makin relevan untuk menggambarkan situasi kita: out of touch. Istilah ini bukan sekadar berarti ketinggalan zaman, melainkan keadaan ketika seorang pemimpin tidak lagi nyambung dengan denyut nadi masyarakat yang dipimpinnya. Ia bicara dalam bahasa yang kaku, sementara publik menjawab dengan meme, ironi, dan gelombang digital yang tak terhentikan.
Di masa lalu, generasi tua dan muda masih berbagi ruang informasi yang sama. Ayah membaca koran, anak ikut melirik halaman belakangnya; kakek menonton berita di televisi, cucu duduk di sampingnya. Narasi besar bangsa diserap bersama. Perbedaan usia tidak otomatis berarti perbedaan epistemik.
Tapi hari ini, semua berubah drastis. Generasi digital hidup dengan algoritma, bahasa visual, dan kecepatan interaksi yang nyaris tak terbayangkan oleh para pemimpin yang masih terpaku pada protokol lama.
Inilah yang disebut jurang epistemik — kesenjangan cara kita memperoleh dan memaknai pengetahuan. Di satu sisi, para pemimpin masih sibuk dengan pidato panjang, konferensi pers formal, dan unggahan foto kegiatan yang lebih mirip album keluarga besar. Di sisi lain, publik muda menghendaki narasi yang jujur, cair, interaktif, dan sesuai ritme media sosial.
Masalahnya, jurang ini bukan sekadar soal gaya. Jika dibiarkan, ia akan menjadi retakan dalam fondasi bangsa. Polarisasi sosial mengeras karena setiap generasi hidup dalam ruang kebenaran masing-masing. Kepercayaan pada institusi merosot karena pemimpin dianggap tidak mengerti. Disinformasi merajalela, mengambil ruang kosong yang ditinggalkan komunikasi resmi. Dan dalam jangka panjang, kita berisiko kehilangan identitas kolektif sebagai bangsa.
Bayangkan sebuah kapal besar yang berlayar di samudra. Nahkoda dan para awaknya sibuk membaca peta kertas, sementara lautan sudah dipenuhi kapal digital yang bergerak dengan radar satelit dan GPS real-time. Apa yang terjadi? Kapal itu bukan hanya tersesat, tapi juga terancam karam. Begitulah risiko bangsa ini jika para pemimpin tetap out of touch.
Namun, harapan belum padam.
Setiap disrupsi selalu membawa peluang transformasi. Yang dibutuhkan bukan sekadar akun media sosial baru atau jargon digitalisasi, melainkan mindset digital. Mindset ini menuntut keberanian untuk belajar, kesediaan untuk mendengar, dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kebenaran kini bersifat dialogis, bukan sepihak.
Pemimpin yang hebat adalah ia yang mampu menyeberangkan rakyatnya melintasi jurang epistemik, bukan yang membiarkan mereka terpecah di kedua sisi tebing.
Langkah konkret bisa dimulai dari hal sederhana: berhenti menjadikan media sosial sebagai etalase pencitraan, dan mulai menggunakannya sebagai ruang percakapan. Hadir bukan hanya dalam bentuk gambar seremonial, tetapi dalam wujud narasi yang menyentuh, menjawab keresahan, dan membuka ruang diskusi. Belajar dari generasi muda bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kepemimpinan sejati.
Bangsa ini sedang menunggu pemimpin yang tidak sekadar memimpin dari atas podium, tetapi yang mau turun ke ruang digital, mendengarkan suara rakyatnya dalam bahasa zaman ini. Pemimpin yang tidak takut mengubah pola pikir, karena sadar bahwa mempertahankan cara lama di tengah dunia yang baru sama saja dengan menulis surat di atas pasir di tepi pantai—hilang seiring ombak pertama datang.
Pagi ini, mari kita bertanya: apakah kita rela terus dipimpin oleh mereka yang out of touch? Ataukah kita mendesak hadirnya pemimpin yang berani menjembatani jurang epistemik ini? Masa depan bangsa tidak menunggu. Jika kita lambat, kita tidak hanya ketinggalan, tapi akan tercebur ke dalam jurang dalam yang membelah negeri ini.
Belajar dari Nepal
Gelombang protes besar yang mengguncang Nepal memberi pelajaran pahit bagi dunia. Amarah Gen Z yang meledak bukan semata soal kebijakan, melainkan akumulasi kekecewaan terhadap pemimpin yang out of touch—gagal membaca tanda zaman, abai terhadap aspirasi generasi muda, dan terjebak dalam cara pandang lama. Jurang epistemik yang dibiarkan melebar akhirnya berubah menjadi kawah amarah. Fenomena ini bukan sekadar kisah di Himalaya, tapi juga peringatan bagi Indonesia yang sedang menghadapi bonus demografi: Gen Z dan milenial yang kritis, vokal, serta tak mau lagi dibungkam dengan retorika kosong.
Para pemimpin harus sadar, inti kepemimpinan adalah kepercayaan. Trust hanya lahir jika ada komunikasi yang sejajar, bukan sekadar pidato dari podium. Belajar dari Nepal, kita harus segera membangun jembatan antara generasi tua dan muda melalui bahasa digital, kolaborasi, dan partisipasi nyata. Jika tidak, sejarah akan berulang. Jangan biarkan Indonesia menjadi headline berikutnya karena pemimpinnya tak paham zaman. Mari mendengar, merangkul, dan bertransformasi—sebelum terlambat.
Saatnya bangun, saatnya berubah, saatnya memimpin dengan cara yang benar-benar menyentuh zaman. Karena kepemimpinan sejati adalah kemampuan untuk selalu relevan — hadir di hati rakyat, di pikiran publik, dan di ruang digital yang kini menjadi denyut kehidupan bangsa. (Subchan Daragana)
