KESATU.CO, PURWAKARTA — Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein, kembali menunjukkan sikap tegasnya terhadap kualitas pembangunan di wilayah Kabupaten Purwakarta.
Kali ini, perhatian mendalam ia arahkan pada proyek pembangunan Gapura Taman Kapten Halim yang berlokasi di Ranca Darah, Desa Salem, Kecamatan Pondok Salam.
Saat meninjau lokasi tersebut, Om Zein secara terbuka menyemprot tim perencana proyek. Ia menilai adanya ketidaksesuaian antara perencanaan dengan kondisi riil di lapangan.
Dengan nada tinggi dan lugas, ia meminta seluruh pihak yang terlibat dalam perencanaan serta pelaksanaan infrastruktur di Purwakarta untuk mengubah pola pikir dan bekerja secara lebih profesional.
Sentil Perencanaan yang “Salah Kaprah”
Bupati Purwakarta menekankan bahwa proyek infrastruktur tidak boleh digarap seadanya atau sebatas menggugurkan kewajiban anggaran. Pembangunan fasilitas publik harus memperhitungkan dampak, daya tahan, serta nilai manfaatnya bagi masyarakat dalam jangka waktu yang lama.
“Pembangunan dan perencanaan yang salah kaprah, pembangunan infrastruktur yang ada di Purwakarta berpikir jangka panjang… dan melihat existing yang ada… jangan sampai asal jadi,” tegas Om Zein di hadapan jajaran dan tim teknis terkait.
Menurutnya, kesalahan dalam tahap perencanaan hanya akan berujung pada pemborosan anggaran daerah. Ketika sebuah bangunan dibuat tanpa memperhitungkan aspek daya tahan dan kondisi sekitar, masyarakatlah yang akhirnya dirugikan karena fasilitas tersebut cepat rusak atau tidak berfungsi maksimal.
Dua Poin Inti Arahan Om Zein untuk Infrastruktur Purwakarta
1. Orientasi Jangka Panjang: Perencanaan harus berfokus pada daya tahan dan fungsi ruang hingga belasan tahun ke depan, bukan sekadar selesai tepat waktu.
2. Kesesuaian Konteks Lokal: Setiap desain dan pengerjaan proyek wajib memperhitungkan existing atau kondisi nyata di lapangan.
Integrasi Bentang Geografis dan Budaya Lokal
Tidak hanya menyoal teknis konstruksi, Om Zein juga menyoroti pentingnya keterpaduan antara bangunan fisik dengan kearifan lokal. Kabupaten Purwakarta memiliki karakteristik wilayah yang unik, mulai dari topografi daratan hingga nilai budaya Sunda yang melekat kuat di tengah masyarakat.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh perencana proyek di lingkungan Pemkab Purwakarta untuk lebih peka terhadap kondisi lingkungan sekitar tempat proyek tersebut berdiri.
“Yuk kita buat perencanaan dan pelaksanaan proyek infrastruktur dengan benar sesuai dengan kebutuhan, *existing*, serta bentang geografis, bentang wilayah, dan bentang budaya yang ada,” lanjutnya.
Integrasi antara kondisi geografis dan bentang budaya dianggap krusial agar setiap bangunan termasuk gapura ikonik seperti di Taman Kapten Halim dapat menyatu secara harmonis dengan lingkungan Desa Salem, Kecamatan Pondok Salam, serta tidak merusak estetika alam sekitarnya.
Kritik Demi Kepentingan Bersama
Aksi amukan Om Zein di lapangan ini bukanlah hal baru. Sikap spontan dan blak-blakan ini kerap ia tunjukkan setiap kali menemukan pengerjaan fasilitas publik yang terkesan sembrono.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa ketegasannya semata-mata didasari oleh rasa tanggung jawab kepada warga Purwakarta.
Di akhir peninjauannya, Om Zein menyampaikan permohonan maaf atas sikap kerasnya, seraya mengingatkan kembali komitmen bersama untuk membangun Purwakarta yang lebih baik.
“Jadi weh Om Zein-nya ngamuk lagi… tapi maaf ya bukan bermaksud apa-apa… ini demi kepentingan kita bersama,” pungkas Om Zein menutup arahannya.
Langkah tegas ini diharapkan menjadi peringatan keras bagi seluruh dinas terkait dan kontraktor di Purwakarta agar lebih serius, cermat, dan transparan dalam mengeksekusi setiap program pembangunan infrastruktur di masa mendatang.***
