KESATU.CO – BANDUNG, Memasuki periode akhir tahun kerap diiringi tibanya musim hujan. Tentunya, sebagai korporasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero) menyiapkan dan menyusun rencana guna mengantisipasi dampak terjadinya bencana hidrometeorologi, seperti banjr, longsor, dan lainnya.
Upaya antisipasi dampak terjadinya bencana hidrometeorologi demi terciptanya keamanan, keselamatan, dan kenyamanan perjalanan kereta juga dilakukan PT KAI (Persero) Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung.
“Tentu saja, kami bersiaga 100 persen mewaspadai titik-titik rawan banjir, longsor, tanah amblas. Ini untuk mencegah sekaligus meminimalisir dampak kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi,” tandas Executive Vice Presiden PT KAI (Persero) Daop 2 Bandung, Dicky Eka Priandana.
Dicky Eka Priandana melanjutkan, di wilayah kerjanya, terdapat sekitar 73 Daerah Pemantauan Khusus (DPK) atau titik rawan bencana hidrometeorologi.
Terlebih, lanjut dia, pihaknya mengaktifkan 164 perjalanan kereta setiap harinya. Cakupannya, sebutnya, antara lain 46 perjalanan Commuter Line Bandung Raya.
Lalu, 10 perjalanan Walahar dan enam perjalanan Siliwangi. Kemudian, kata dia, pihaknya juga mengaktifkan 54 perjalanan kereta feeder Whoosh.
Baca Juga: Estuari dan Kedai Dermaga Hadirkan Talkshow “Playback Engineer, Gak Cuma Pencet Spasi”
Dicky Eka Priandana mengungkapkan, seluruh titik rawan itu tersebar di sejumlah lokasi dan jalur rel, baik wilayah barat maupun timur.
Titik rawan longsor, sahutnya, menjadi yang paling banyak. “Ada 31 titik rawan longsor di wilayah kerja kami,” ujarnya.
Antara lain, tukas dia, Kilo Meter (KM) 112+700-115+200 yakni petak antara Stasiun Ciganea dan Stasiun Sukatani. Titik rawan lainnya, kata Dicky Eka Priandana, yakni petak jalan antara Stasiun Purwakarta dan Stasiun Ciganea, tepatnya KM 106+000-108+000.
“Petak jalan antara Stasiun Cicalengka dan Stasiun Nagreg, yakni pada KM 186+000-189+200 juga rawan longsor,” sahutnya.
Titik rawan terbanyak selanjutnya adalah tanah labil. Lokasinya, ujar Dicky Eka Priandana, di antaranya KM 98+100-98+200 antara Stasiun Cibungur dan Stasiun Purwakarta.
Petak jalan KM 110+200-112+700 antara Stasiun Ciganea dan Stasiun Sukatanipun, tambah dia, juga berkatagori rawan tanah labil.
Kerawanan berikutnya, imbuh dia, yakni banjir. Titik-titiknya antara lain, papar Dicky Eka Priandana, antara lain, KM 92+900-93+000 antara Stasiun Cibungur dan Stasiun Purwakarta, KM 98+000-98+100 antara Stasiun Cibungur dan Stasiun Purwakarta, serta petak jalan KM 94+900/000 antara Stasiun Cibeber dan Stasiun Cianjur.
Agar seluruh perjalanan kereta aman dan nyaman, tuturnya, pihaknya juga melakukan sejumlah cara lainnya. Misalnya, kata Dicky Eka Priandana, normalisasi saluran air, membuat trucuk bambu, dan membangun penahan tanah menggunakan karung berisi tanah dan retaining wall.
“Kami juga menyiagakan Alat Material Untuk Siaga (AMUS) di 14 titik. Yakni Stasiun Bandung, Kiaracondong, Cicalengka, Cibatu, Ciawi, Tasikmalaya, Banjar, Cimahi, Padalarang, Cianjur, Cibeber, Rendeh, Purwakarta, dan Cibungur.
Selain itu, bener Dicky Eka Priandana, jajarannya juga menyiagakan tim petugas khusus yang bersiaga 24 jam full, semisal Petugas Penilik Jalan (PPJ) dan petugas posko daerah pantauan khusus. (*)
