KESATU.CO – Masjid Raya Bandung kembali menegaskan perannya sebagai pusat peradaban Islam dan ruang sosial umat dengan pelantikan pengurus baru nadzir pada 7 Oktober 2025. Di bawah kepemimpinan Roedy Wiranatakusumah, S.H.,M.H.,MBA. masjid yang telah berdiri lebih dari dua abad ini memulai babak baru menuju kemandirian dan keterbukaan bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Kami berharap dengan manajemen baru, tim baru yang lebih solid, kami bisa lebih berhikmat untuk memakmurkan masjid ini. Masjid Raya Bandung harus kembali menjadi center of sharing dan center of excellence,” ujar Roedy penuh keyakinan. Ia menegaskan bahwa kepengurusan nadzir kali ini tidak hanya berorientasi pada pengelolaan ibadah, tetapi juga pemberdayaan masyarakat secara luas.
Dalam visinya, Roedy ingin mengembalikan marwah Masjid Raya Bandung sebagai rumah besar umat yang inklusif. “Kami membuka pintu bagi siapa pun tanpa sekat. Program kemandirian yang kami jalankan justru bertujuan memperluas kerja sama dengan semua pihak—stakeholder, akademisi, perbankan, masyarakat, hingga budayawan,” tuturnya. Menurutnya, sinergi lintas sektor menjadi kunci untuk membangkitkan kembali potensi masjid sebagai pusat kegiatan spiritual, sosial, dan ekonomi.
Harapan besar itu juga sejalan dengan arah kebijakan pemerintah pusat yang menempatkan penguatan wakaf dan ekonomi Islam sebagai prioritas nasional. Kepala Bidang Penerangan Agama Islam, Zakat, dan Wakaf Kanwil Kemenag Jawa Barat, Dr. H. Jajang Apipudin, M.Ag., menilai peran nadzir dalam pengelolaan wakaf sangat strategis. “Nadzir wakaf ini luar biasa perannya. Bahkan Presiden memberi perhatian khusus pada penguatan wakaf sebagai bagian dari pengembangan ekonomi Islam,” ujarnya.
Dr. Jajang menjelaskan, tanah wakaf yang telah terdaftar di sistem Kementerian Agama mencapai 87.754 bidang, namun baru sekitar 55 persen yang memiliki sertifikat resmi dari BPN. “Potensi ini luar biasa besar. Masjid Raya Bandung, yang berada di pusat kota, memiliki peluang besar untuk mengembangkan potensi wakaf produktif demi kesejahteraan umat,” katanya. Ia menambahkan, seorang wakif mewakafkan tanahnya bukan hanya untuk ibadah, tetapi juga agar manfaatnya meluas bagi masyarakat sekitar dan pengunjung kota Bandung.
Baca Juga: Bandung Zoo Ditutup Sementara, Pemkot Dorong Penyelesaian Damai Dua Pihak Yayasan
Roedy pun memiliki pandangan serupa. Ia menginginkan agar Masjid Raya Bandung tak hanya menjadi simbol religius, tetapi juga pusat kemajuan umat yang mencakup pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan. “Kami ingin menjadikan masjid ini tempat pencerahan, peningkatan mutu kepribadian, pendidikan, ekonomi, dan budaya,” ujarnya. Ia juga bermimpi pada 2030, saat peringatan 75 tahun Konferensi Asia Afrika, Masjid Raya Bandung kembali menjadi titik pertemuan delegasi dunia Islam dan simbol konektivitas Asia-Afrika.
Langkah konkret menuju cita-cita itu telah dimulai melalui penataan bidang-bidang kerja nadzir yang baru dikukuhkan. Setiap bidang diharapkan mampu menyusun program yang berdampak nyata bagi masyarakat, dari pemuda hingga kalangan akademisi. “Kami ingin memastikan tiga tahun ke depan menjadi periode pemulihan dan kebangkitan Masjid Raya Bandung,” ujar Roedy.
Masjid tua yang berdiri di jantung Kota Bandung itu kini menatap masa depan dengan semangat baru. Di tengah derasnya arus modernisasi, semangat pengabdian dan kemandirian yang diusung para nadzir menjadi harapan bahwa masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat kehidupan yang menghidupkan nilai-nilai Islam dalam wujud nyata keseharian umat.
