KESATU.CO, PURWAKARTA — Jadi Bahan Perbincangan di media sosial baru-baru ini dihebohkan oleh lagu berbahasa Sunda berjudul “Lalaki Langit, Lalanang Bejat”.
Lagu yang diperkenalkan oleh Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein ini mendadak jadi perbincangan hangat.
Bukan karena melodinya, melainkan karena isi liriknya yang dinilai kontroversial dan memicu stereotip negatif terhadap kaum perempuan. Gelombang kritik pun berdatangan, termasuk dari tokoh publik sekaligus anggota DPR RI, Atalia Praratya.
Menanggapi polemik yang menggelinding bak bola salju ini, Om Zein akhirnya buka suara dan memberikan klarifikasi resmi mengenai makna di balik lagu tersebut.
Kritik Tajam Atalia Praratya: Tidak Menghormati Perempuan
Lagu “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” menjadi sorotan tajam karena beberapa bait liriknya dianggap menampilkan sudut pandang yang bias gender. Lirik tersebut dinilai mengagungkan laki-laki dengan cara membandingkannya secara tidak setara dengan pengalaman biologis yang dialami oleh perempuan.
Kritik keras salah satunya datang dari istri mantan Gubernur Jawa Barat, Atalia Praratya. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, politisi yang akrab disapa Bu Cinta ini menyampaikan rasa kecewa yang mendalam.
“Setelah berusaha memahami dari berbagai sudut pandang, saya tetap tidak menemukan nilai yang dapat dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan,” tulis Atalia dalam unggahannya.
Bagi banyak kalangan, lagu ini dianggap kurang sensitif terhadap isu gender, terlebih dirlis oleh seorang pejabat publik yang seharusnya menjadi representasi seluruh elemen masyarakat.
Klarifikasi Om Zein: Itu Cerita Kenakalan Masa Lalu Saya
Melihat respons publik yang semakin memanas, Bupati Purwakarta Om Zein langsung memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa karya tersebut sama sekali tidak berniat untuk menyudutkan atau merendahkan kaum perempuan.
Om Zein menjelaskan bahwa lagu sekaligus puisi tersebut sebenarnya adalah sebuah karya lama yang bersifat personal. Karya itu merupakan bentuk refleksi spiritual dan perjalanan hidup pribadinya.
“Itu puisi dan lagu diciptakan tahun 2020, bercerita tentang diri saya sendiri. Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal,” ujar Om Zein secara terbuka kepada redaksi.
Lebih lanjut, Om Zein mengungkapkan bahwa lirik-lirik tajam dalam lagu tersebut lahir dari perenungan mendalam atas fase kehidupan masa lalunya yang diakuinya penuh dengan kenakalan. Karya ini, menurutnya, adalah bentuk otokritik terhadap dirinya sendiri, bukan untuk menghakimi gender lain.
Meskipun karya tersebut murni lahir dari refleksi personal, Om Zein menyadari bahwa interpretasi publik bisa berbeda. Sebagai pejabat publik yang responsif, ia tidak segan untuk menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas kegaduhan dan ketidaknyamanan yang sempat timbul akibat viralnya lagu tersebut.
“Saya mohon maaf jika ada pihak yang merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu. Namun tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu. Itu murni cerita tentang diri saya sendiri,” tegas Bupati Purwakarta ini.
“Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal. Saya bersyukur Tuhan menciptakan saya jadi lelaki. Mungkin jika saya diciptakan jadi perempuan terjadi apa yang saya pikirkan karena saya belum bisa jaga diri,” tambahnya secara jujur.
Pelajaran dari Polemik Karya Pejabat Publik
Kasus lagu “Lalaki Langit” ini menjadi pengingat penting bagi para pejabat publik dalam menelurkan sebuah karya seni ke ruang digital. Di era media sosial, sebuah karya tidak lagi hanya menjadi milik penciptanya, melainkan akan diinterpretasikan secara bebas oleh masyarakat luas.
Meskipun diniatkan sebagai refleksi pribadi atas masa lalu yang kelam, pemilihan diksi yang sensitif tetap berpotensi menimbulkan salah paham jika dilempar ke ranah publik tanpa konteks yang utuh.
Hingga saat ini, klarifikasi dari Om Zein diharapkan mampu meredam polemik dan memberikan pemahaman baru bagi masyarakat mengenai latar belakang terciptanya lagu “Lalaki Langit, Lalanang Bejat”. Pembelajaran pentingnya: seni memang bebas, namun ruang publik digital selalu menuntut kehati-hatian.(R)
