KESATU.CO – BANDUNG, Tidak selamanya sebuah korpotwsi atau industri raksasa membukukan performa dan kinerja positif. Terkadang, mengalami fluktuasi.
Kondisi itu yang dialami produsen otomotif ternama asal Jepang, Toyota Motor Corporation.
Melansir Kyodo, sepertinya, Toyota Motor Corporation mengalami masa-masa yang cukup sulit dan menantang. Pasalnya, perolehan laba industri otomotif berlogo The Triple Elips itu mengalami kontraksi yang cukup signifikan.
Kyodo mengabarkan, selama enak bulan pertama 2024, perolehan laba bersih Toyota Motor Corporation menyusut 26,4 persen secara tahunan atau menjadi 1,91 triliun yen, setara dengan Rp196 triliun.
Selain laba bersih, pada semester perdana 2024, Toyota Motor Corporation pun mencatat perolehan laba operasional yang juga terkoreksi 3,7 persen secara tahunan, yakni menjadi 2,46 triliun yen atau setara Rp252 triliun.
Kabar Kyodo, ada beberapa faktor yang menjadi biang keladi merosotnya perolehan laba bersih Toyota Motor Corporation.
Baca Juga: Bukan di Indonesia, Tahun Depan The New Generation Honda Civic Hatchback Hybrid Hadir di negara Ini
Antara lain, terjadinya dugaan skandal uji kualitas. Akibatnya, Toyota Motor Corporation menghentikan produksi sejumlah variannya.
Di antaranya, model Sport Utility Vehicle (SUV), The All New Toyota Yaris Cross. Hal itu menyebabkan Toyota Motor Corporation merevisi proyeksi penjualannya, termasuk brand Lexus, pada tahun ini menjadi 9,7 juta unit.
Tentunya, kondisi itu berefek negatif pada income produsen otomotif asal Negeri Sakura tersebut.
Penyebab lainnya, terkontraksinya kinerja penjualan pada pasar luar Jepang, utamanya China. Di negeri yang hingga 1912 berupa kekaisaran itu, volume penjualannya minus 13,7 persen
Rumornya, di Negeri The Great Wall itu, produk Toyota Motor Corporation tergerus oleh hadirnya varian-varian berbasis elektrifikasi yang lebih diminati publik Negeri Panda karena harganya yang relatif lebih terjangkau.
Menyusutnya volume penjualan juga terjadi pada pasar Jepang. Di Negeri Shogun, volume penjualan Toyota Motor Corporation berkurang 12,4 persen secara tahunan.
Valuasi aset yang berdenominasi kurs mata uang asing non-yen, juga memicu merosotnya perolehan laba bersih.
Soalnya, secara umum, perbandingannya dengan tahun laku, posisi mata uang yen lebih kuat. Efeknya sangat terasa, yaitu perolehan laba bersihnya berkurang 227 miliar yen atau sekitar Rp23 triliun.
Walau begitu, pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2025, Toyota Motor Corporation Group merevisi proyeksi perolehan laba bersih, yakni berkurang 27,8 persen secara tahunan, yaitu menjadi 3,57 triliun yen, atau setara Rp366 triliun. (*)
