KESATU.CO – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung kian serius menjadikan kursus dan pelatihan sebagai strategi utama menekan angka pengangguran. Di tengah tantangan mismatch antara pendidikan formal dan kebutuhan industri, penguatan pendidikan nonformal dinilai menjadi solusi konkret yang mendesak.
Wali Kota Bandung, Mohammad Farhan, menegaskan dalam acara Apresiasi Tokoh dan Inovasi Digital Momentum yang bertepatan dengan peringatan Hari Kartini ini bahwa sistem pendidikan di Indonesia tidak bisa hanya bertumpu pada jalur formal. Menurutnya, pendidikan nonformal melalui kursus dan pelatihan justru memiliki peran vital dalam membentuk keterampilan praktis yang dibutuhkan dunia kerja.
“Pendidikan kita memiliki dua jalur, formal dan nonformal, yang saling melengkapi. Banyak keterampilan justru didapat dari kursus, bukan hanya dari sekolah,” ujar Farhan dalam sambutannya, Rabu (22/04/2026).
Ia mencontohkan pengalaman pribadinya yang memperoleh kemampuan bahasa asing hingga soft skill tambahan melalui berbagai kursus. Bahkan, Farhan mengungkapkan pernah mengikuti executive course di Harvard Business School selama tiga bulan untuk memperdalam manajemen organisasi non-profit.
Menurutnya, model pelatihan seperti itu merupakan bentuk pendidikan nonformal tingkat tinggi yang sangat dibutuhkan, termasuk bagi para pemimpin dan profesional.
Ia pun mendorong lembaga pendidikan di Indonesia untuk mulai mengembangkan program serupa.
Farhan pun mengapresiasi terhadap kinerja Prof. Dr. Ir. Bob Foster, M.M., Direktur Utama Ganesha Operation, yang dianugerahi Visioner Executive Awards atas kontribusinya membangun ekosistem pendidikan adaptif, bermula di Bandung hingga ke nasional di Indonesia.
“Kursus eksekutif seperti di luar negeri harus mulai dikembangkan di Indonesia, karena kebutuhan peningkatan kapasitas itu nyata,” katanya.
DIREKTUR KURSUS DAN PELATIHAN KEMENDIKDASMEN RI , DR YAYA SUTARYA, S.PD , M.PD pun menjelaskan bahwa Kementerian Pendidikan Dasar Menengah terus berupaya semaksimal mungkin untuk bisa memastikan semua lembaga kursus, semua pimpinan lembaga pebelajaran, semua pimpinan LKP yang menyelenggarakan kecakapan hidup atau life skill, terus bertransformasi menjadi lembaga yang credible, lembaga yang tentunya bisa memastikan, bisa memenuhi kebutuhan pasar atau kebutuhan pasar, industri yang tentunya saat ini terus digaungkan.
Di sisi lain, Ketua Umum DPP Forum PLKP, H. Zoelkifli M Adam, menegaskan bahwa lembaga kursus dan pelatihan memiliki kontribusi besar dalam mencetak tenaga kerja siap pakai. Ia menyebut, saat ini terdapat puluhan program pelatihan dengan ratusan standar kompetensi lulusan yang disusun sesuai kebutuhan industri.
“Kami tidak hanya menciptakan peserta didik yang kuat secara teori, tetapi benar-benar berbasis skill kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja seperti LPT Panghegar dan LKP Aryanti,” ujarnya.
Zoelkifli menjelaskan, Forum PLKP secara aktif membangun kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat dan daerah, untuk memperkuat regulasi serta pengembangan sektor pelatihan. Ia juga menyoroti pentingnya kejelasan regulasi dalam penyelenggaraan pendidikan nonformal agar lebih terarah dan berdampak luas.
Menurutnya, keberadaan lembaga kursus kini semakin diakui oleh industri, terutama di sektor-sektor seperti perhotelan, teknologi informasi, hingga kecantikan. Hal ini menjadi bukti bahwa pendidikan nonformal memiliki daya saing tinggi dalam mencetak tenaga kerja profesional.
Sementara itu, anggota Komisi 4 DPRD Kota Bandung Komisi D, H. Rizal Khairul, menilai kehadiran lembaga kursus dan pelatihan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam meningkatkan keterampilan kerja.
Ia menyebut, berbagai program pelatihan seperti barista, tata rias, hingga keterampilan teknis lainnya sangat dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja lokal.
“Ini sangat membantu masyarakat dalam meningkatkan skill. Tinggal bagaimana programnya disusun dengan jelas agar bisa didukung dalam penganggaran,” kata Rizal.
Rizal menekankan pentingnya perencanaan program yang matang agar dapat masuk dalam proses penganggaran pemerintah daerah. Ia mengingatkan bahwa setiap program harus memiliki legalitas dan perencanaan yang jelas untuk bisa mendapatkan dukungan anggaran dari DPRD.
Selain itu, ia juga menyoroti perlunya perbaikan dalam aspek perizinan lembaga pelatihan yang masih kerap menjadi kendala di lapangan. Menurutnya, kemudahan akses dan regulasi yang jelas akan mempercepat pertumbuhan lembaga kursus di Kota Bandung.
Kolaborasi antara Pemkot Bandung, DPRD, dan Forum PLKP dinilai menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem pelatihan yang kuat dan berkelanjutan. Dengan sinergi tersebut, diharapkan program pelatihan tidak hanya berjalan, tetapi juga tepat sasaran dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Tak tertinggal pula, Ketua Panitia yang merangkap sebagai ketua FPLKP DPC Kota Bandung Zoel Ichwan Sy, menyampaikan banyak terima kasih kepada pihak Telkom Indonesia yang telah sangat support. Salah satunya adalah pemberian fasilitas gedung Graha Merah Putih Telkom ini dan tidak hanya itu, dirinya pun ditantang untuk bisa mengadakan kegiatan yang lebih besar yang berada di geger kalong yang lebih megah lagi.
Dan juga kepada Walikota Bandung yang berkenan hadir, serta Direktur Kursus dan Pelatihan, DR YAYA SUTARYA, S.PD , M.PD, Ketua Umum FPLKP, H. Zoelkifli M Adam, juga H.Rizal, anggota DPRD Bandung, juga chef-chef yang telah hadir dan teman teman sejawat yang telah berkenan meramaikan acara halal bihalal.
Di sisi lain, Pemkot Bandung sendiri menargetkan penurunan angka pengangguran melalui peningkatan kompetensi tenaga kerja berbasis pelatihan. Dengan pendekatan ini, Bandung diharapkan mampu mencetak sumber daya manusia yang adaptif, kompeten, dan siap bersaing di era industri yang terus berubah.
Upaya ini sekaligus menjadi langkah strategis dalam menjadikan Bandung sebagai kota yang tidak hanya kreatif, tetapi juga produktif dalam menciptakan peluang kerja bagi warganya.
