KESATUCO – Kawasan hutan lebat di Gunung Tangkil, Kabupaten Sukabumi, kembali menyita perhatian kalangan arkeolog.
Tim gabungan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama peneliti lokal menemukan fragmen arca batu yang diduga berasal dari masa megalitik.
Arca tersebut ditemukan dalam kondisi rusak dan tertutup semak belukar. Berdasarkan pengamatan awal, batuan penyusun arca memiliki kemiripan material dengan koleksi yang saat ini berada di Museum Prabu Siliwangi.
Baca Juga: Program Capacity Building Gagasan ASN Muda Ini Bangkitkan Semangat Kerja Lintas Instansi di Sukabumi
“Lokasi temuan ini sangat terpencil dan belum pernah disentuh sebelumnya. Tapi batuannya menunjukkan karakteristik yang identik dengan arca yang telah dikatalogkan di museum,” kata peneliti lapangan Zubair Mas’ud.
Selain arca, tim juga menemukan batu menhir di wilayah Desa Tugu serta struktur batu yang mencurigakan di area Gunung Karang—dua lokasi yang berdekatan dengan Gunung Tangkil.
Seluruh temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa wilayah ini merupakan bagian dari jaringan situs megalitik yang belum terpetakan secara resmi.
Baca Juga: Ramai Bendera One Piece Berkibar Menjelang Perayaan Kemerdekaan RI, Begini Reaksi Pemuda Pancasila
“Kawasan ini belum tercatat sebagai situs budaya, padahal potensinya sangat besar,” ujar Kyai Fajar Laksana, salah satu pembicara dalam seminar arkeologi yang digelar di Sukabumi.
Tak hanya benda batu, tim ahli keramik juga menemukan ratusan pecahan keramik yang tersebar di beberapa titik. Berdasarkan analisis awal, pecahan-pecahan ini berasal dari periode abad ke-10 hingga ke-20, sebagian besar memiliki corak khas Tiongkok.
Temuan keramik tersebut mengindikasikan bahwa kawasan Gunung Tangkil tidak hanya dihuni masyarakat lokal, tetapi juga masuk dalam jalur perdagangan maritim internasional, terutama antara Nusantara dan Tiongkok.
“Keramik ini bisa menjadi kunci penting untuk memahami peran Sukabumi dalam jaringan perdagangan kuno,” ungkap Fajar.
BRIN kini mendorong agar temuan-temuan tersebut dapat segera dikurasi dan dipamerkan dalam galeri khusus, sekaligus menjadi bagian dari edukasi sejarah maritim dan budaya lokal di museum-museum wilayah Jawa Barat.
Sebagai langkah tindak lanjut, BRIN akan kembali ke lokasi pada awal September 2025 dengan membawa perangkat pemetaan modern seperti drone dan LIDAR (Light Detection and Ranging). Teknologi ini akan digunakan untuk mengungkap kemungkinan struktur buatan manusia yang tersembunyi di bawah permukaan hutan.
Dukungan akademis juga datang dari Prof. Ali Akbar dari Universitas Indonesia, salah satu tokoh utama dalam riset situs Gunung Padang. Ia menilai, ada keterkaitan budaya dan waktu antara Gunung Tangkil dan situs megalitik lain di Pulau Jawa bagian barat.
Baca Juga: DPRD Sebut BPKPD Kota Sukabumi Tidak Terbuka, Ini Alasannya
Menariknya, meskipun belum berstatus situs resmi, Gunung Tangkil masih menjadi tempat ritual adat oleh warga setempat. Aktivitas seperti doa bersama dan sesajen rutin dilakukan di sejumlah titik, yang oleh peneliti disebut sebagai budaya berlanjut—sebuah indikasi bahwa nilai-nilai spiritual dan sejarah situs ini belum hilang sepenuhnya.
Para peneliti kini mendesak pemerintah daerah dan pusat untuk segera meninjau status kawasan Gunung Tangkil. Penetapan sebagai situs cagar budaya dinilai penting untuk melindungi temuan arkeologis sekaligus menjaga identitas sejarah daerah.
“Kami tidak hanya menemukan arca, tetapi membuka kemungkinan adanya pusat kebudayaan yang selama ini tersembunyi di tengah hutan,” pungkas Fajar.
