KESATU.CO – Upaya menjaga kesehatan kini tak hanya terbatas pada pendekatan medis konvensional. Masyarakat mulai kembali menengok metode pengobatan tradisional yang berpijak pada nilai-nilai sunnah, salah satunya adalah terapi fashdu. Sebagai bentuk ikhtiar hidup sehat berbasis spiritual dan ilmiah, sebuah sesi terapi fashdu akan digelar pada Senin, 4 Agustus 2025, bertempat di Masjid Raya Bandung, Lantai 2, kawasan Alun-Alun Kota Bandung, pukul 16.00 hingga 17.30 WIB.
Kegiatan ini menghadirkan Dr. Muhammad Ibnu Almusawa, terapis profesional berpengalaman dalam bidang pengobatan berbasis sunnah. Acara ini terbuka untuk umum dan dibanderol dengan biaya khusus sebesar Rp175.000, termasuk seluruh layanan terapi dan konsultasi ringan. Pendaftaran dapat dilakukan melalui kontak yang tertera, yakni Santy di nomor +62 811-2204-343.
Fashdu: Terapi Tua yang Kembali Diminati
Dalam penjelasannya, Dr. Muhammad Ibnu Almusawa menyampaikan bahwa fashdu merupakan terapi pengeluaran darah kotor dari pembuluh vena melalui sayatan ringan dan terkontrol. “Terapi ini bertujuan untuk melancarkan peredaran darah, mengurangi nyeri, hingga membantu proses detoksifikasi alami tubuh,” ujar beliau.
Berbeda dari bekam yang mengangkat darah dari permukaan kulit, fashdu dilakukan secara langsung dari pembuluh darah vena dengan teknik sayat halus yang dilakukan oleh terapis profesional. Terapi ini dikenal dalam khazanah pengobatan tradisional Islam dan diyakini telah dilakukan oleh Rasulullah SAW pada masa hidupnya.
Dr. Ibnu juga menekankan bahwa semua prosedur dilakukan secara higienis, dengan peralatan steril, serta pengawasan ketat demi memastikan keamanan dan kenyamanan peserta. “Kami tidak hanya membawa nilai sunnah, tetapi juga standar medis yang dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Antusiasme Masyarakat terhadap Terapi Sunnah
Menurut penyelenggara, kegiatan ini bukan sekadar pengobatan alternatif, tetapi juga bagian dari edukasi kesehatan berbasis nilai keislaman. “Kami ingin mengajak masyarakat untuk mengenali tubuhnya, menjaga kesehatan dengan pendekatan yang selaras antara fisik dan spiritual,” ujar Roedy Wiranatakusumah, Ketua Nadzir Masjid Raya Bandung, Senin (04/08/2025).
Baca Juga: Festival Budaya Anak Pesisir Series III: Ruang Ekspresi, Pelestarian, dan Regenerasi Budaya Lokal di SukabumiIa menambahkan bahwa kegiatan semacam ini sebelumnya telah rutin dilakukan dalam lingkup komunitas-komunitas pecinta pengobatan sunnah, namun baru belakangan mulai diangkat ke ranah publik dengan format lebih terbuka dan profesional.
“Dengan menghadirkannya di Masjid Raya Bandung, kami berharap masyarakat dari berbagai kalangan bisa turut serta, tidak hanya untuk terapi, tetapi juga memahami nilai penting menjaga kesehatan dengan cara yang sesuai tuntunan agama,” kata Roedy.
Menghidupkan Masjid sebagai Pusat Kesehatan Komunitas
Masjid, dalam sejarah Islam, tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga pusat peradaban—termasuk dalam aspek kesehatan. Penyelenggaraan terapi fashdu di Masjid Raya Bandung menjadi langkah konkret untuk menghidupkan kembali fungsi masjid sebagai ruang pelayanan umat yang holistik.
“Ini bukan semata terapi, tetapi bagian dari ikhtiar membangun kesadaran umat akan pentingnya menjaga tubuh sebagai amanah,” ujar Roedy. Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak menunda pemeriksaan atau pengobatan ringan yang bisa ditangani secara tradisional, namun ilmiah.
Dengan pelaksanaan yang profesional, terbuka, dan terjangkau, terapi fashdu bersama Dr. Muhammad Ibnu Almusawa diharapkan menjadi gerakan kecil yang berdampak besar dalam mempromosikan kesehatan preventif dan spiritualitas masyarakat.
