KESATU.CO – BANDUNG, Status kereta sebagai moda transportasi terfavorit publik tidak terbantahkan lagi. Hal itu tercermin pada berjubelnya penumpang di seluruh wilayah kerja PT Kereta Api Indonesia KAI (Persero), termasuk Wilayah 2 Bandung.
Anne Purba, Vice President Public Relations PT KAI (Persero), mengungkapkan, selama 2024, khusus di Wilayah 2 Bandung, pihaknya melayani 9.426.801 penumpang, baik keberangkatan maupun kedatangan.
Jutaan orang penumpang itu, lanjut mantan Vice President Corporate Secretary PT KAI (Persero) Commuter Line Indonesia (KCI) itu meliputi seluruh rangkaian kereta, yakni kereta jarak jauh, lokal Siliwangi (Cianjur-Sukabumi), Feeder, dan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) Whoosh.
Volume penumpang di Wilayah 2 Bandung selama 2024 itu, jelas Anne Purba, bertambah 0,84 persen lebih banyak daripada 2023, yang banyaknya 9.348.283 orang.
Ke-9,4 juta penumpang di Wilayah 2 Bandung tersebut, tutur dia, terdiri atas 4.720.022 orang yang bertolak dari beberapa titik keberangkatan. Sisanya, sahutnya, yakni 4.706.779 orang merupakan penumpang yang tiba di Wilayah 2 Bandung.
Baca Juga: Jadi Simbol Kekayaan Bangsawan Inggris, Kini Nanas Jadi Primadona Subang
Selama 2024, kata dia, ada dua stasiun yang merupakan titik keberangkatan dan kedatangan terbanyak penumpang kereta jarak jauh. Yaitu, Stasiun Bandung dan Kiaracondong. Jumlahnya, sebut Anne Purba, masing-masing 3.037.534 orang dan 1.854.495 orang.
“Sisanya, tersebar pada beberapa stasiun, yaitu Tasikmalaya, Banjar, dan Cimahi,” kata Anne Purba.
Soal Grafik Perjalanan Kereta (Gapeka) 2025, khususnya di Wilayah 2 Bandung, Anne Purba menjelaskan, pihaknya memperbanyak frekuensI perjalanan Harina (Bandung -Cirebon-Semarang-Surabaya) dan Ciremai (Bandung-Cirebon-Semarang).
Penambahan itu membuat Harina dan Ciremai melayani tiga perjalanan dari Bandung. Selain itu, ungkapnya, pemberlakuan Gapeka 2025 pun, secara otomatis, mengaktifkan rangkaian kereta legendaris Bandung -Jakarta, Parahyangan, yang kini terdiri atas tiga pilihan kelas, eksekutif, ekonomi, dan Panoramic.
“Aktivasi Parahyangan juga disertai pemberlakuan tiket parsial, yang tarifnya lebih efisien,” tutup Anne Purba. (win)
