KESATU.CO – Semangat belajar tak mengenal usia. Hal itulah yang kini terlihat di lingkungan Kompleks GBI, tempat puluhan ibu-ibu rutin mengikuti kegiatan belajar mengaji melalui komunitas Madrosatul Umahat.
Berawal dari kelompok kecil belajar bahasa Arab, kegiatan tersebut kini berkembang menjadi wadah pembelajaran Al-Quran yang diikuti sekitar 60 jemaah dari berbagai wilayah di Bandung.
Pengajar Madrosatul Umahat, Hani Hamidah, mengatakan komunitas tersebut hadir sebagai ruang bagi para ibu untuk terus menambah ilmu agama, khususnya memperbaiki bacaan Al-Quran.
“Intinya ibu-ibu ini ingin belajar ngaji. Karena saya punya bekal metode Maqdis, akhirnya pembelajarannya menggunakan metode itu supaya lebih mudah dipahami,” ujar Hani saat diwawancarai, Sabtu (09/05/2026).
Ia menjelaskan, Madrosatul Umahat mulai dirintis pada akhir 2022. Awalnya, kegiatan tersebut bukan fokus pada pembelajaran Al-Quran, melainkan kelas bahasa Arab sederhana yang digelar bersama warga sekitar.
Namun seiring waktu, semakin banyak ibu-ibu yang meminta adanya kelas mengaji dan tahsin. Dari situlah komunitas belajar Al-Quran mulai dibentuk secara lebih serius pada pertengahan 2023.
Kini, selain diikuti warga RW 11, kegiatan tersebut juga menarik minat peserta dari luar kawasan Kompleks GBI. Bahkan, ada jemaah yang datang dari wilayah Ujungberung demi mengikuti pembelajaran rutin tersebut.
Menurut Hani, salah satu daya tarik Madrosatul Umahat terletak pada metode pembelajarannya yang dibuat ringan dan menyenangkan, terutama bagi ibu-ibu yang baru kembali belajar membaca Al-Quran.
Metode Maqdis yang digunakan merupakan metode pembelajaran yang ditemukan oleh Ustadz Irfan Susilo. Dalam praktiknya, peserta diajak belajar dengan pendekatan kreatif seperti nyanyian, pengulangan huruf hijaiyah, hingga hafalan yang dibuat lebih santai.
Baca Juga: Sepatu Loba Andalkan Kualitas Lokal, Siap Bersaing dengan Produk Impor
“Kalau ibu-ibu itu kan perlu metode yang mudah diterima. Jadi kami buat suasananya menyenangkan, ada nyanyi-nyanyinya juga supaya lebih mudah menghafal huruf,” katanya.
Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menjadi salah satu alasan para peserta merasa nyaman mengikuti kegiatan tersebut. Tidak sedikit jemaah yang awalnya merasa malu atau kurang percaya diri membaca Al-Quran, kini mulai berani belajar secara bertahap.
Bagi Hani, proses belajar tersebut bukan sekadar memperbaiki bacaan, tetapi juga membangun semangat untuk terus mencari ilmu hingga usia lanjut.
Ia berharap keberadaan Madrosatul Umahat bisa menginspirasi masyarakat lain, khususnya para ibu rumah tangga, agar tidak ragu memulai belajar mengaji meski usia sudah tidak muda lagi.
“Belajar itu sampai akhir hayat. Walaupun sedikit demi sedikit, yang penting terus semangat memperbaiki bacaan Al-Quran,” ujarnya.
Selain kegiatan belajar rutin, komunitas ini juga aktif menggelar agenda silaturahmi antarkelas. Tahun ini menjadi kegiatan silaturahmi ketiga yang diselenggarakan bersama para peserta tahsin.
Dalam pelaksanaannya, panitia kegiatan dibentuk secara bergilir dari masing-masing kelompok belajar. Cara tersebut dinilai mampu mempererat kebersamaan sekaligus menumbuhkan rasa memiliki di antara para jemaah.
Di tengah kesibukan rumah tangga dan aktivitas sehari-hari, semangat ibu-ibu Madrosatul Umahat menjadi gambaran bahwa keinginan belajar agama tetap tumbuh kuat di lingkungan masyarakat perkotaan.
Dengan pendekatan yang sederhana, hangat, dan menyenangkan, komunitas tersebut perlahan menjadi ruang belajar sekaligus ruang silaturahmi yang membawa energi positif bagi para anggotanya.
