KESATUCO – Pemerintah Kota Sukabumi melakukan berbagai upaya untuk mengendalikan inflasi. Hal itu dimulai dari pemantauan perkembangan Harga bahan pokok di pasaran.
“Salah satu langkah konkret yang telah dijalankan adalah monitoring dan pelaporan harian terhadap perkembangan harga bahan pokok penting (bapokting) oleh Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan, dan Perindustrian (Diskumindag),” ujar Kabid Perekonomian dan Sumber Daya Alam Bappeda Kota Sukabumi Erni Agus Riyani.
Selain itu, Pemerintah Kota Sukabumi pun menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) sebagai bentuk intervensi langsung kepada masyarakat. Langkah ini bertujuan menjaga keterjangkauan harga serta ketersediaan pasokan bahan pangan strategis.
Baca Juga: Bappeda Monev RAD-PG, Ternyata Ini Tujuannya
Menurut informasi dari Sekretariat TPID yang berada pada Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kota Sukabumi, laju inflasi bulanan (month-to-month/mtm) pada April 2025 tercatat sebesar 1,13 persen.
“Dari angka tersebut, sekitar 1,05 persen di antaranya disumbang oleh kenaikan tarif listrik. Kenaikan ini menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dan menjadi perhatian TPID dalam menyusun strategi stabilisasi Harga,” ucapnya
Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat bahwa inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) di Kota Sukabumi pada April 2025 mencapai 2,74 persen. Angka tersebut didasarkan pada Indeks Harga Konsumen (IHK) yang berada di angka 109,52.
Baca Juga: Sukabumi Dinobatkan Jadi Kota Toleran
“Angka ini menunjukkan adanya kenaikan harga secara umum dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya,” ungkapnya.
Kelompok pengeluaran dengan inflasi y-on-y tertinggi tercatat pada kategori perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kenaikan pada kelompok ini mencapai 9,38 persen dengan IHK sebesar 119,73. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan di luar pangan, khususnya yang berkaitan dengan perawatan diri, juga turut memberikan tekanan terhadap inflasi di daerah.
“Sementara itu, satu-satunya kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi y-on-y adalah kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan, dengan angka deflasi sebesar -0,01 persen dan IHK sebesar 99,02. Penurunan harga pada kelompok ini menjadi penyeimbang di tengah kenaikan pada kelompok lainnya, meskipun pengaruhnya tidak terlalu besar terhadap inflasi umum,” pungkasnya.
