KESATU.CO – BANDUNG, Bergulirnya agenda Net Zero Emission (NZE) yang dicanangkan pemerintah terealisasi pada 2060 membuat korporasi-korporasi menyusun dan mengimplementasikan beragam cara demi mewujudkannya.
Satu di antara korporasi-korporasi itu adalah industri strategis berlabel Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor ketenagalistrikan, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero).
Kepada media, di kawasan Sarinah Jakarta, Suroso Isnandar, Direktur Manajemen Risiko PT PLN (Persero), mengungkapkan, pihaknya memiliki delapan jurus demi mengurangi emisi karbon sekaligus merealisasikan tercapainya NZE 2060.
Cara pertama mengurangi emisi karbon sebanyak 1,8 miliar ton. “Yaitu, melalui pembatalan proyek PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) berkapasitas 13.300 Mega Watt (MW) yang termaktub dalam RUPTL (Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik) 2019-2028,” papar Suroso Isnandar.
Strategi kedua, lanjut Suroso Isnandar, yakni juga berupa pembatalan Perjanjian Jual Beli Listrik atau Power Purchase Agreement (PPA) yang tercantum dalam RUPTL 2021-2030 berkapasitas 1.400 MW.
Baca Juga: Pansus I DPRD Jabar Optimis Selesaikan Peraturan Tata Tertib Tepat Waktu
Kiat ketiga, sambung Suroso Isnandar, yakni mengganti PLTU yang aktif berkapasitas 1.100 MW oleh pembangkit yang berkonsep The Newable & Renewable Energy alias Energi Baru-Terbarukan (EBT).
Jurus keempat, tambah Suroso Isnandar, yakni mengaktifkan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) untuk mengonversi PLTY berkapasitas 800 MW.
“Cara kelima, mengakselerasi dan mengembangkan penggunaan biomassa sebagai co-firing atau sumber energi bagi 52 PLTU, pada 2025,” ujarnya.
Dieselisasi, imbuh Suroso Isnandar, merupakan kuat jajarannya yang keenam untuk mengurangi emisi karbon. Pola ini berupa penggantian Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) oleh pembangkit berbasis EBT.
“Kita pertama ada lebih dari 90 lokasi terpencil yang dieselnya dimatikan diganti dengan pembangkit EBT,” ujarnya.
Berikutnya, cara ketujuh, sahut dia, pihaknya lebih mengintensifkan carbon trading. Sedangkan trik kedelapan, beberapa Suroso Isnandar, secara masif, pihaknya mengembangkan pembangkit EBT berkapasitas minimal 21 Giga Watt (GW) (*)
