KESATU.CO -BANDUNG, Predikat sebagai korporasi perbankan berbendera Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terakbar layak disandang PT Bank Mandiri Tbk (Persero).
Bagaimana tidak, perbankan yang tergabung dalam Himpunan Bank Negara (Himbara) ini semakin kokoh dan megah berkat torehan performa dan kinerja yang berkilau.
Terbukti, pada semester perdana 2024, PT Bank Mandiri Tbk (Persero) meraup laba bersih secara konsolidasi yang bernilai sultan, yakni Rp26,55 triliun.
“Perolehan laba terkonsolidasi pada semester I 2024 itu bertambah 5,23 persen secara tahunan,” tandas Sigit Prastowo, Direktur Keuangan dan Strategi PT Bank Mandiri Tbk (Persero), kepada media dalam Konferensi Pers Paparan Kinerja Kuartal II 2024 Bank Mandiri Rabu (30/7/2024) petang.
Tidak hanya meraup laba konsolidasi yang mewah, lanjut dia, perbankan prlat merah itu pun, semakin kaya raya.
Pasalnya, jelas dia, total aset terkonsolidasi hingga akhir Juni 2024 bernilai fantastis, yaitu Rp2.258 triliun. Angka tersebut, tuturnya, melebihi pencapaian periode saka 2023, yaitu menggeliat 14,96 persen.
Sigit Prastowo menuturkan, pencapaian gemilang itu berkat pergerakan positif sejumlah lini bisnisnya. Antara lain, sebut dia, penyaluran kredit.
Secara konsolidasi, sahut Sigit Prastowo, hingga akhir triwulan II 2024, pihaknya menyalurkan kredit yang nilainya lebih banyak 20,46 persen daripada pencapaian semester I 2023 atau menjadi Rp1.532 triliun,
Penopang bergeliatnya penyaluran kredit yang kian masif itu, lanjut Sigit Prastowo, berkat moncernya pembiayaan pada tiga segmen. Yakni, ucapnya, korporasi, komersial, dan Usaha Mikro-Kecil-Menengah (UMKM).
“Ketiga segmen kredit itu menunjukkan pergerakan positif scara tahunan. Masing- masing sebesar 29,7 persen 21,7 persen, dan 13,9 persen,” papar dia.
Baca Juga: Berkat Mewahnya Gelontoran Pembiayaan, BCA Syariah Raup Laba Jumbo
Gacornya penyaluran kredit dan pembiayaan tersebut, sahutnya, diimbangi oleh perkembangan positif rasio Non-Performing Loan (NPL).
Pada Juni 2024, posisi NPL secara bank only berada pada level 1,01 persen atau lebih rendah 52 basis poin daripada semester I 2023.
Pada periode yang sama, ujar Sigit Prastowo, pihaknya juga membukukan pertambahan pendapatan bunga bersih terkonsolidasi 3,75 persen secara tahunan atau posisinya menjadi Rp49,1 triliun.
Begitu pula dengan pendapatan nonbunga terkonsolidasi yang turut menggeliat 5,74 persen secara tahunan atau Rp19,41 triliun.
Tidak hanya kredit yang menggeliat, penghimounan Dana Pihak Ketuga (DPK) pun, ungkap Sigit Prastowo, bergairah.
Hingga semester I 2024, sebut Sigit Prastowo, nilai pengelolaan DPK terkonsolidasi berada pada posisi Rp1.651 triliun atau bertambah 15,4 persen secara tahunan.
Komposisi terbesar DPK, tukasnya, yakni Current Account-Saving Account (CASA) atau dana murah, yang terdiri atas giro dan tabungan. “Yakni sebesar 79,7 persen. Sisanya adalah dana mahal berupa deposito,” tutu Sigit Prastowo. (*)
