KESATU.CO – Universitas Sangga Buana (USB) YPKP Bandung terus memperkuat budaya riset dan inovasi di lingkungan kampus. Pada 2026 ini, kampus tersebut berhasil meningkatkan perolehan dana hibah penelitian dan pengabdian masyarakat hingga mencapai sekitar Rp817 juta.
Peningkatan tersebut menjadi bagian dari upaya kampus untuk mendorong hasil penelitian agar tidak hanya berhenti sebagai karya ilmiah, tetapi juga mampu dikembangkan menjadi produk dan aset bernilai ekonomi bagi masyarakat.
Momentum itu ditandai melalui penandatanganan kontrak Hibah Kemendikti Saintek Tahun Anggaran 2026 sekaligus peluncuran dua pusat studi dan satu sentra Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Rektor USB YPKP, Dr. Didin Saepudin, SE., M.Si mengatakan, arah pengembangan riset kampus kini mulai difokuskan pada hilirisasi dan komersialisasi hasil penelitian.
Menurut dia, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan tulisan akademik, tetapi juga harus mampu menghadirkan inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
“Output riset bukan hanya tulisan, tetapi bagaimana hasil penelitian bisa menjadi aset dan memiliki nilai komersialisasi,” ujar Didin.
Ia menjelaskan, USB YPKP saat ini mulai membangun berbagai lembaga pendukung sebagai embrio menuju Pusat Unggulan Inovasi. Langkah tersebut sejalan dengan arahan pemerintah agar hasil riset perguruan tinggi mampu menjadi kekuatan ekonomi baru.
Didin mencontohkan, sejumlah dosen dan peneliti kampus kini telah terlibat dalam penyusunan naskah akademik untuk berbagai peraturan daerah bekerja sama dengan pemerintah daerah.
Menurut dia, kerja sama tersebut menjadi salah satu bentuk pemanfaatan hasil pemikiran akademik kampus untuk kebutuhan masyarakat dan pemerintahan.
“Ke depan kami ingin hasil riset kampus benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” katanya.
Baca Juga: OJK Jabar Latih Frontliner Bank dengan Bisindo, Perkuat Akses Keuangan Inklusif
Sementara itu, Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USB YPKP, Nenny Hendajani, mengungkapkan jumlah penelitian yang lolos pendanaan tahun ini meningkat signifikan.
Jika tahun sebelumnya hanya satu penelitian yang memperoleh hibah, kini meningkat menjadi empat penelitian.
“Naiknya cukup besar, apalagi ada penelitian kewilayahan yang nilai pendanaannya lebih tinggi,” ujar Nenny.
Ia menilai tantangan terbesar saat ini adalah membangun budaya penelitian di lingkungan dosen agar tidak hanya fokus pada kegiatan pengajaran.
Karena itu, pihak kampus kini mulai mendorong perubahan pola pikir agar dosen lebih aktif melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat.
Selain itu, pembentukan sentra HKI juga dilakukan untuk membantu dosen mendaftarkan hak cipta hasil penelitian mereka agar memiliki perlindungan hukum dan peluang pengembangan ekonomi yang lebih besar.
“Kalau riset bisa menjadi aset, tentu manfaatnya akan jauh lebih besar, baik untuk kampus maupun masyarakat,” tuturnya.
