KESATU.CO, SUKABUMI – Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci percepatan penurunan stunting di Kabupaten Sukabumi. Hal itu mengemuka saat Wakil Bupati Sukabumi Andreas mendampingi Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga RI sekaligus Wakil Kepala BKKBN RI, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, mengunjungi Desa Gede Pangrango, Kecamatan Kadudampit, Jumat (9/10/2026).
Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk melihat langsung praktik kolaborasi penanganan stunting di tingkat desa sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
Wabup Andreas menilai, kehadiran Wamen Kependudukan dan Pembangunan Keluarga merupakan bentuk perhatian pemerintah pusat terhadap upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Sukabumi.
“Ini juga momentum bagi kami untuk memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat dan Kabupaten Sukabumi dalam percepatan penurunan angka stunting,” ujarnya.
Menurut Andreas, penanganan stunting bukan persoalan sederhana. Kompleksitas masalahnya menuntut keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, sektor swasta, hingga masyarakat. Karena itu, program yang telah dirancang harus dijalankan secara konsisten dengan pembagian peran dan koordinasi yang jelas.
“Ketika turun langsung ke lapangan, penanganan stunting memang kompleks. Namun, rumusan dan masalahnya sama. Tinggal konsisten saja terhadap apa yang diprogramkan. Salah satunya penanganannya lewat kolaborasi semua unsur,” katanya.
Ia menegaskan, pencegahan stunting harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari upaya pencegahan sejak dini hingga penanganan pada kelompok yang membutuhkan intervensi. Pola kolaborasi yang diterapkan di Desa Gede Pangrango pun diharapkan dapat menjadi referensi bagi desa-desa lain di Kabupaten Sukabumi.
“Pencegahan stunting ini harus ditangani dari hulu hingga ke hilir. Makanya, kolaborasi menjadi kunci,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Andreas juga menyinggung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden RI Prabowo Subianto. Menurutnya, program tersebut menjadi salah satu upaya untuk mendukung perbaikan gizi anak-anak Indonesia sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendukung pelaksanaan program tersebut sekaligus memperkuat upaya pencegahan stunting di daerah.
“MBG ini menjadi salah satu penopang untuk perbaikan gizi. Pak Presiden ingin memperbaiki gizi anak-anak Indonesia. Jadi, mari kita dukung program presiden dan kompak agar penurunan stunting dapat terwujud bagi kemajuan Bangsa Indonesia,” ungkapnya.
Sementara itu, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka menegaskan bahwa kolaborasi merupakan unsur penting dalam upaya menurunkan angka stunting. Menurutnya, Desa Gede Pangrango dapat menjadi contoh bagaimana kerja sama berbagai pihak diterapkan dalam penanganan masalah tersebut.
“Dengan kolaborasi, bisa menjadi lebih baik. Tanpa kolaborasi, sulit penurunan stunting,” terangnya.
Ia juga mengingatkan bahwa penanganan stunting tidak cukup hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi. Intervensi perlu dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan berbagai faktor yang memengaruhi tumbuh kembang anak, termasuk sanitasi, pola asuh keluarga, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Karena itu, keterlibatan semua unsur dinilai penting agar upaya penanganan stunting dapat berjalan secara berkelanjutan dan menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung.
“Makanya, saya mengapresiasi semua pihak yang terlibat. Semoga kolaborasi ini dapat terus dilakukan,” pungkasnya.
