KESATU.CO, SUKABUMI – Sektor pariwisata Kabupaten Sukabumi mulai menunjukkan taringnya sebagai salah satu penggerak ekonomi daerah. Buktinya, penerimaan retribusi dari objek destinasi wisata yang dikelola pemerintah daerah sudah mencapai Rp1,01 miliar hingga September 2026.
Capaian tersebut diraih hanya dalam sembilan bulan. Angkanya bahkan telah melampaui realisasi retribusi wisata dalam satu tahun pada 2021, 2022, 2024 dan 2025.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi Ali Iskandar menyebut capaian tersebut bukan sekadar soal bertambahnya uang yang masuk ke kas daerah. Lebih penting, peningkatan retribusi menjadi salah satu indikator bahwa aktivitas wisata di Sukabumi terus bergerak.
“Alhamdulillah, sampai bulan kesembilan, September, pemasukan retribusi objek destinasi wisata sudah mencapai Rp1,01 miliar,” ujar Ali.
Sebagai gambaran, retribusi wisata pada 2021 berada di kisaran Rp650 juta. Angka itu naik menjadi Rp735 juta pada 2022 dan Rp817 juta pada 2023.
Namun, penerimaan kemudian turun menjadi sekitar Rp729 juta pada 2024 dan Rp626 juta pada 2025.
Kini, hanya sampai September 2026, penerimaan sudah menembus Rp1,01 miliar.
Ali mengatakan capaian tersebut masih berpeluang meningkat. Dinas Pariwisata masih memiliki waktu tiga bulan untuk menggenjot penerimaan hingga penghujung tahun.
Momentum libur akhir tahun dan Tahun Baru dinilai menjadi salah satu peluang untuk meningkatkan kunjungan wisatawan.
“Kami masih punya tiga bulan ke depan, Oktober, November, Desember. Kami punya keyakinan apabila polanya di September terus ditingkatkan, kemudian kita akan menghadapi akhir tahun dan tahun baru, Bismillah kita bisa mencapai angka Rp1,4 miliar,” katanya.
Target Rp1,4 miliar tersebut menjadi sasaran realistis dari target tahunan retribusi pariwisata sebesar Rp1,6 miliar.
Namun, Ali menegaskan Dinas Pariwisata tidak ingin pembangunan sektor wisata hanya berorientasi pada pencapaian target retribusi.
Menurut Ali, ukuran keberhasilan pariwisata justru harus dilihat dari seberapa besar wisatawan mampu menciptakan perputaran ekonomi di daerah.
Ketika wisatawan datang, uang yang dibelanjakan tidak berhenti di pintu masuk objek wisata. Uang tersebut diharapkan mengalir kepada pelaku UMKM, pedagang makanan dan minuman, pengelola penginapan, transportasi hingga berbagai sektor usaha masyarakat.
“Pariwisata tidak selesai sampai di sana. Selain PAD, kita pun mempunyai tugas untuk meningkatkan aktivitas ekonomi. Ini kemudian menjadi parameter bahwa pariwisata kita berkontribusi terhadap aktivitas ekonomi di Kabupaten Sukabumi,” jelas Ali.
Ia menyebut kontribusi sektor pariwisata terhadap aktivitas ekonomi saat ini berada di kisaran 2,6 persen. Angka tersebut diharapkan terus meningkat seiring penguatan ekosistem pariwisata.
Karena itu, pengembangan pariwisata tidak bisa hanya mengandalkan destinasi yang dikelola pemerintah. Destinasi yang dikelola masyarakat dan pelaku usaha juga harus ikut diperkuat.
Di tengah peningkatan penerimaan, Ali mengakui masih banyak pembenahan yang harus dilakukan.
Infrastruktur destinasi, aksesibilitas serta hospitalitas menjadi sejumlah aspek yang harus terus diperbaiki agar wisatawan tidak hanya datang sekali, tetapi mau kembali berkunjung.
“Kami banyak mendengar masukan dan saran. Tentu masih banyak yang harus kami perbaiki berkaitan dengan infrastruktur yang ada di objek destinasi wisata, hospitaliti, aksesibilitas dan lain sebagainya,” ujarnya.
Ali juga menekankan pentingnya transparansi dalam pengelolaan retribusi wisata. Publikasi penerimaan dilakukan agar masyarakat mengetahui perkembangan pendapatan sekaligus memastikan setiap penerimaan dapat dipertanggungjawabkan.
“Kami ingin menyampaikan langsung kepada publik. Ini ikhtiar kami untuk transparan, memastikan tidak ada yang ditutup-tutupi dan memastikan amanah yang dititipkan kepada kami bisa langsung sampai ke kas daerah,” tegasnya.
Ali pun mengajak pemerintah, masyarakat dan pelaku usaha untuk membangun sektor pariwisata secara bersama-sama.
Menurutnya, semakin kuat ekosistem wisata Sukabumi, semakin besar pula peluang mendatangkan wisatawan dan menggerakkan uang di daerah.
“Mari kita bersatu padu, bahu membahu agar wisata kita bisa semakin banyak dan bisa mendatangkan uang ke wilayah kita, sehingga kesejahteraan masyarakat kita bisa meningkat,” pungkas Ali.
