KESATU.CO – BANDUNG, Bagi korporasi-korporasi berbendera Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Penyertaan Modal Negara (PMN) yang digelontorkan pemerintah merupakan elemen penting.
Pasalnya, melalui PMN, korporasi-korporasi Merah Putih bisa menggulirkan beragam program, aktivitas, dan proses produksinya. Begitu pula dengan PT Industri Kereta Api (INKA) (Persero).
Agar aktivitas produksi kereta pada manufkaturnya di Banyuwangi tetap bergeliat, bahkan lebih mentereng, tahun ini, PT INKA (Persero) mengajukan permintaan PMN kepada pemerintah bernominal ratusan miliar rupiah.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) belum lama ini, Eko Purwanto, Direktur Utama PT INKA (Persero), menyatakan, tahun ini, pihaknya mengajukan PMN bernilai Rp965 miliar kepada pemerintah.
Pemanfaatannya, jelas Eko Purwanto, untuk pengadaan sejumlah fasilitas pada manufkaturnya sebagai pendukung proses produksi.
Dia beralasan, sejak pembangunannya yang didanai PMN itu tuntas pada 2016, hingga kini, manufaktur tersebut belum memiliki fasilitas produksi. Karena itu, tuturnya, manufaktur tersebut belum bisa berproduksi.
Eko Purwanto menjelaskan, fasilitas produksi yang pihaknya perlukan pada manufaktur itu antara lain mesin. Lalu, kata dia, workshop berbasis stainless steel.
“Kemudian, sejumlah alat uji semisal test track berjarak 3 kilo meter. Termasuk akses dari dan ke manufaktur yang fungsional untuk logistik dan mobilisasi produk,” ujar Eko Purwanto.
Sederhananya, lanjut Eko Purwanto, pemanfaatan PMN tersebut berguna untuk memperkuat dan menambah kapasitas produksi.
Saat ini, ungkapnya, kapasitas produksi manufaktur itu sebanyak 800 unit gerbong barang per tahun.
Jumlah itu belum termasuk produksi passenger train atau kereta penumpang sebanyak 225 unit per tahun. Sedangkan kapasitas produksi lokomotif dan kereta berpenggerak, masing-masing sebanyak 15 unit serta 40 unit.
Pihaknya, tukas Eko Purwanto, menyatakan, kucuran dana PMN untuk menambah kapasitas produksi adalah hal yang sangat penting.
Penyebabnya, dalih Eko Purwanto, saat ini, kapasitas produksi manufaktur di Banyuwangi itu tidak sesuai pemesanan.
Padahal, PT INKA berkewajiban memenuhi pemesanan, terutama yang diajukan PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero), yang merupakan konsumen berpemesanan terbanyak.
“Pada periode 2023-2027, PT KAI (Persero) memesan sebanyaj 24 trainset. KRL (Kereta Rel Listrik) baru plus dan 2 trainset peremajaan,” papar Eko Purwanto.
Sejatinya, tambah Eko Purwanto, khusus pemesanan trainset peremajaan, PT KAI (Persero) memesan sebanyak 29 trainset. Namun, kapasitas produksinya yang limited alias terbatas, volume pemesanan peremajaan berkurang menjadi hanya dua trainset.
Jadi, tegasnya pihaknya menilai kucuran dana PMN untuk menambah kapasitas produksi adalah hal yang sangat penting.
Penyebabnya, dalih Eko Purwanto, saat ini, kapasitas produksi manufaktur di Banyuwangi itu tidak bisa memenuhi pemesanan.
Seandainya pengajuan PMN memperoleh persetujuan,sahutnya, manufaktur di Banyuwangi itu memiliki kapasitas produksi yang lebih banyak, yakni 250 unit per tahun. (*)
