KESATU.CO – BANDUNG, Tentunya, aktivasi dan operasional berbagai fasilitas, baik sarana maupun prasarana, harus optimal dan semupirna sehingga pelayanan dan pemenuhan kebutuhan masyarakat terpenuhi secara optimal.
Karena itu, demi terciptanya optimalisasi operasional Kereta Rel Listrik (KRL), PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero) mengajukan sebuah usul kepada pemerintah pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Dalam RDP dengan Komisi XI DPR tersebut, Didiek Hartantyo, Direktur Utama PT KAI (Persero), mengemukakan, usul yang pihaknya ajukan yakni berupa penambahan Penyertaan Modal Negara (PMN), yang nominalnya Rp2 triliun.
Alasan pengajuan penambahan PMN itu, jelas Didiek Hartantyo, yaitu berkenaan dengan operasional KRL pada tahun ini.
Dia berpandangan, kebutuhan sarana KRL berkatagori urgent. Misinya, terang Didiek Hartantyo, tidak hanya mengantisipasi pertambahan volume penumpang, tetapi juga memenuhi kebutuhan transportasi publik sekaligus menyempurnakan serta optimalisasi pelayanan.
Didiek Hartantyo menyatakan, pihaknya memprediksi bahwa volume penumpang KRL pada 2027 mencapai 410 juta orang penumpang. Tahun ini, tuturnya, perkiraannya sebanyak 345 juta orang penumpang.
Melihat kondisi itu, Didiek Hartantyo mengatakan, perlu adanya replacement sarana KRL sebanyak 1.080 unit KRL. Dasar replacement, dalih Didiek Hartantyo, banyak trainset KRL yang usia aktivasinya melebihi 30 tahun.
Bicara soal rencana PT KAI (Persero) terkini, Didiek Hartantyo mengutarakan, mengacu pada kontrak, tahun depan, 3 trainset KRL impor tiba di tanah air.
Selain itu, pada 2025-2026, 16 trainset produk PT Industri Nasional Kereta Api (INKA) (Persero) hadir memperkuat armada KRL.
Tahun selanjutnya, yaitu 2027, PT INKA (Persero) kembali menghadirkan produknya untuk memperkuat armada KRL, yaitu sebanyak 8 trainset.
“Tahun depan (2025), ada 2 trainset kereta retrofik produk PT INKA plus 8 trainset kereta baru retrofit,” ungkap Didiek Hartantyo. (*)
