KESATU.CO – BANDUNG, Setiap korporasi, tentunya, senantiasa mencanangkan performa dan kinerka gemilang pada setiap periodenya. Demikian pula dengan korporasi perbankan yang aktif pertama kali di Kota Bandung pada dekade 1940-an, PT Bank OCBC NISP Tbk.
Terbukti, posisi PT bank OCBC NISP Tbk sebagai perbankan akbar di tanah air semakin kokoh. Selain itu, perbankan ini pun semakin tajir.
Dalam keterangan resminya, Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk, menginformasikan pencapaian gemilang jajarannya hingga semester I 2024.
Parwati Surjaudaja mengungkapkan, hingga triwulan II 2024, pihaknya berhasil membukukan laba bersih yang lebih banyak 16 persen daripada periode sama 2023 atau bernilai Rp2,4 triliun.
Raupan laba bersih bernilai sultan itu ditopang moncernya kinerja beberapa lini bisnis. Antara lain, kata dia, meraup pendapatan bunga bersih yang menggeliat 7 persen secara tahunan.
Selain itu, lanjutnya, gacornya penyaluran kredit dan pembiayaan oun menopang perolehan laba berangka fantastis tersebut.
Hingga semester awal 2024, tuturnya, secara konsolidasi, termasuk pembiayaan Bank Commonwealth, yang resmi bermerger, pihaknya menggelontorkan dana kredit bernilai masif, melejit 14 persen secara tahunan.
Dia mengatakan, penyaluran pembiayaan itu terdiri atas kredit ritel bernilai Rp13,3 triliun alias bertambah 27,7 persen secara tahunan, dan kredit bisnis perbankan yang bergerak positif 7 persen lebih banyak daripada semester pertama 2023 atau berada pada level Rp6,9 triliun.
Baca Juga: Akuisisi Bank Commonwealth Secara Sah, Bank OCBC NISP Bertambah Gemuk
Selanjutnya, lanjut Parwati Surjaudaja, hingga Juni 2024, posisi nilai kredit berkelanjutan yang pihaknya salurkan mencapai Rp34,99 triliun,
“Sebesar 43 persen di antaranya berupa Thr Green Financing atau pembiayaan hijau,” kata dia.
Canggihnya penyaluran kredit itu, sambung Parwati Surjaudaja, diimbangi oleh perkembangan positif rasio Non-Performing Loan (NPL). Posisi NPL pada Juni 2024 yaitu 2 persen.
Tidak hanya pembiayaan, hingga semester perdana tahun ini, tambah Parwati Surjaudaja, pihaknya mengelola Dana Pihak Ketiga (DPK), yang angkanya bergeliat 11 persen secara tahunan.
Mayoritas dana kelolaan DPK, imbuhnya, yakni dana murah atau Current Account-Saving Account (CASA), yang mencakup tabungan dan giro. Persentase CASA, sebutnya, 56 persen.
Sisanya, sebesar 44 persen, merupakan pengrelolaan dana mahal, yaitu berupa deposito. (*)
